Internasional

Trump Klaim AS Kendalikan Selat Hormuz: Iran Tak Bisa Melawan

Trump Klaim AS Kendalikan Selat Hormuz dalam pernyataan terbaru yang mengejutkan dunia internasional. Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, kembali

Desk Internasional
Published Agustus 13, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments
Foto : Robert Brown - wahanaberita.com
Table of Contents
  1. Trump Klaim AS Kendalikan Selat Hormuz: Iran Tak Bisa Melawan
  2. Related Reading

Trump Klaim AS Kendalikan Selat Hormuz: Iran Tak Bisa Melawan

Wahanaberita.com – Trump Klaim AS Kendalikan Selat Hormuz dalam pernyataan terbaru yang mengejutkan dunia internasional. Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, kembali menegaskan klaim bahwa Washington memegang kendali penuh atas Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi global. Dalam pernyataannya melalui platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa AS akan terus mempertahankan wilayah strategis tersebut, sementara Iran dinilai tidak memiliki kemampuan untuk melawan blokade yang dijatuhkan Angkatan Laut Amerika.

“AS memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. SAYA RASA KITA AKAN MEMPERTAHANKANNYA!”

Pernyataan tersebut ditulis Trump pada Rabu, 12 Agustus 2026, sebagaimana dilaporkan oleh AFP. Lebih lanjut, Trump menggambarkan kekuatan blokade maritim AS sebagai sesuatu yang sangat kokoh. Ia menyebut bahwa seluruh pihak menyebutnya sebagai “DINDING BAJA”, sebuah kekuatan yang membuat Iran tidak mampu berbuat banyak untuk melawannya. Selat Hormuz merupakan jalur perairan yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, melalui mana sekitar 20% pasokan minyak dunia mengalir setiap harinya.

Klaim Berulang dan Respon Iran

Klaim Trump mengenai penguasaan selat vital ini bukanlah hal baru. Ia telah berkali-kali menegaskan posisi AS, mengingat Selat Hormuz memiliki peran krusial dalam arus energi serta pengiriman komoditas lainnya dari kawasan Timur Tengah. Sementara itu, Iran memiliki pandangan berbeda. Teheran menyatakan bahwa mereka secara efektif menguasai sebagian besar jalur perairan tersebut. Sebagai respons terhadap perang yang dilancarkan Trump pada 28 Februari, Iran berencana menerapkan sistem pungutan atau tol di wilayah perairannya.

Perang yang telah berlangsung hampir enam bulan ini telah menewaskan sejumlah besar pimpinan Iran. Pasukan gabungan AS dan Israel secara intensif membombardir militer Iran. Tujuan awal konflik ini antara lain untuk memaksa Teheran meninggalkan program tenaga nuklirnya serta mendorong pergantian rezim. [Baca juga: Iran Serang Kapal di Selat Hormuz, Perdagangan Global Terancam]

Eskalasi dan Jalan Buntu

Iran tidak tinggal diam dalam menghadapi serangan tersebut. Mereka melakukan perlawanan melalui serangan rudal yang menargetkan pangkalan-pangkalan AS di kawasan, Israel, serta berbagai sasaran di negara-negara Teluk yang bersekutu dengan Washington. Aksi paling efektif dari Iran adalah menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Serangan ini secara efektif melumpuhkan jalur perdagangan global dan mengguncang stabilitas ekonomi dunia.

Di tengah merosotnya popularitas politik di dalam negeri, Trump mempertimbangkan untuk tidak meningkatkan eskalasi perang. Langkah ini diambil menjelang pemilihan umum sela Kongres pada bulan November, dengan harapan meraih kemenangan telak. Situasi ini membuat perang berada dalam kondisi jalan buntu. Meskipun demikian, politisi Partai Republik tersebut menegaskan bahwa AS siap memfokuskan upaya pada blokade pelabuhan-pelabuhan Iran. Strategi yang disebutnya sebagai pendekatan “low-key” ini menjadi pilihan utama saat ini.

“Kita hanya melakukan negosiasi setengah-setengah dengan mereka. Kita hanya memantau Iran dengan inflasi yang sangat tinggi dan fakta bahwa mereka tidak punya uang,” ujar Trump kepada Axios pada hari Minggu.

Dampak Ekonomi Global

Klaim Trump Klaim AS Kendalikan Selat Hormuz memiliki implikasi signifikan terhadap ekonomi global. Harga minyak dunia telah mengalami volatilitas tinggi sejak konflik dimulai. Para analis memperkirakan bahwa jika Iran berhasil memblokir Selat Hormuz sepenuhnya, harga minyak bisa melonjak hingga 50% dalam waktu singkat. Hal ini akan berdampak langsung pada konsumen di seluruh dunia, termasuk Indonesia yang merupakan importir minyak terbesar di Asia Tenggara.

[Lihat juga: Harga Minyak Bertambah Tajam Akibat Ketegangan Selat Hormuz]

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Selat Hormuz

Apa itu Selat Hormuz? Selat Hormuz adalah jalur perairan strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Lebar selat ini sekitar 39 kilometer di titik tersempitnya.

Mengapa Selat Hormuz penting? Sekitar 20% pasokan minyak dunia mengalir melalui Selat Hormuz setiap harinya. Lebih dari 20 juta barel minyak per hari melewati selat ini.

Apa yang terjadi jika Iran memblokir Selat Hormuz? Jika Iran berhasil memblokir Selat Hormuz sepenuhnya, harga minyak dunia bisa melonjak hingga 50% dalam waktu singkat, menyebabkan krisis energi global.

Bagaimana posisi AS dalam konflik ini? AS memiliki armada laut terbesar di Selat Hormuz dan mengklaim mampu mengendalikan jalur perairan tersebut sepenuhnya, seperti yang diklaim oleh Trump.

Apakah Indonesia terdampak? Ya, sebagai importir minyak terbesar di Asia Tenggara, Indonesia sangat terdampak oleh volatilitas harga minyak akibat konflik di Selat Hormuz.

Leave a Comment