Lestari Moerdijat Dorong Reformasi Budaya Sekolah dan Kesejahteraan Guru
Upaya menciptakan ekosistem pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, serta bebas dari tindak kekerasan memerlukan sinergi antara pembenahan tata kelola dan
Table of Contents
Reformasi Budaya Sekolah dan Kesejahteraan Guru: Perspektif Lestari Moerdijat
Wahanaberita.com – Upaya menciptakan ekosistem pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, serta bebas dari tindak kekerasan memerlukan sinergi antara pembenahan tata kelola dan peningkatan kesejahteraan para pendidik. Hal ini menjadi fokus utama dalam reformasi budaya sekolah yang sedang digalakkan.
Kebijakan Mendikdasmen dan Peran Guru Wali
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengumumkan rencana strategis untuk memperkuat transformasi budaya di lingkungan sekolah. Salah satu langkah krusial adalah mengubah fungsi guru, yang sebelumnya hanya bertugas sebagai pengajar, menjadi pendamping sekaligus wali bagi peserta didik. Inisiatif ini sejalan dengan tujuan pemerintah membangun ruang belajar yang kondusif dan terlindungi dari kekerasan.
Langkah tersebut merupakan implementasi dari Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 mengenai Pembangunan Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman. Regulasi ini disusun mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, atau yang dikenal sebagai PP Tunas.
Respons Lestari Moerdijat
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, yang akrab dipanggil Rerie, memberikan tanggapan positif terhadap kebijakan tersebut. Namun, ia menekankan bahwa peningkatan kesejahteraan guru saja tidak cukup untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Tanpa dukungan tata kelola yang baik dan distribusi guru yang merata, dampak kebijakan akan terbatas.
“Peningkatan kesejahteraan saja sejatinya belum cukup untuk langsung meningkatkan mutu pendidikan nasional, tanpa didukung tata kelola dan distribusi guru yang merata, serta perhatian khusus terhadap kesejahteraan tenaga pengajar di tanah air,” kata Rerie, Senin (10/8/2026).
Sebagai Anggota Komisi X DPR RI, Rerie juga menyoroti bahwa peningkatan peran guru menuntut keterampilan dan tanggung jawab yang lebih besar. Perubahan ini harus diimbangi dengan perbaikan kesejahteraan secara menyeluruh agar guru dapat menjalankan fungsi baru mereka dengan optimal.
Lebih lanjut, Rerie mengingatkan bahwa keberhasilan menciptakan sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari kekerasan tidak lepas dari keterlibatan aktif orang tua dan masyarakat. Ia mendorong peningkatan pemahaman publik sebagai bagian dari upaya merealisasikan ruang pendidikan yang berkualitas bagi generasi penerus bangsa.
Menurutnya, sinergi antara peran guru wali, orang tua, dan masyarakat menjadi sangat penting di tengah maraknya kasus kekerasan terhadap anak yang terus berulang di Indonesia. Hal ini sejalan dengan ajakannya untuk membangun sistem perlindungan anak yang komprehensif.
“Saatnya kita bergerak bersama untuk mencegahnya, serta membangun sistem perlindungan anak menyeluruh demi menyelamatkan generasi penerus bangsa,” pungkas Rerie.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Lestari Moerdijat Dorong Reformasi Budaya Sekolah?
Lestari Moerdijat Dorong Reformasi Budaya Sekolah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Lestari Moerdijat Dorong Reformasi Budaya Sekolah matter?
Lestari Moerdijat Dorong Reformasi Budaya Sekolah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
