Melihat Lebih Dekat Stasiun Gunung Putri di Bogor yang Terbengkalai
Melihat Lebih Dekat Stasiun Gunung Putri, sebuah bangunan tua yang berdiri tegak di tengah perkembangan kota Bogor. Stasiun ini pernah menjadi pusat
Stasiun Gunung Putri: Warisan Sejarah yang Terlupakan di Bogor
Wahanaberita.com – Melihat Lebih Dekat Stasiun Gunung Putri, sebuah bangunan tua yang berdiri tegak di tengah perkembangan kota Bogor. Stasiun ini pernah menjadi pusat pergerakan masyarakat, namun kini hanya menyisakan kenangan. Setiap hari kereta api melintas tanpa berhenti, meninggalkan bangunan bersejarah ini dalam keadaan terbengkalai. Rumput liar tumbuh subur di sekitar area stasiun, sementara genangan air bercampur sampah memenuhi sudut-sudut bangunan.
Pantauan yang dilakukan pada hari Jumat, 7 Agustus 2026, mengungkapkan kondisi yang semakin memprihatinkan. Aroma tidak sedap dari tumpukan sampah dan air yang menggenang menciptakan suasana kurang nyaman bagi warga yang melintas di sekitar kawasan tersebut. Bangunan stasiun yang dulunya ramai kini menjadi saksi bisu perubahan zaman.
Posisi Strategis di Tengah Pemukiman
Stasiun ini berlokasi di Desa Gunung Putri, Kecamatan Gunung Putri, Bogor. Area di atas bangunan stasiun dihuni oleh pemukiman warga yang cukup padat. Aktivitas masyarakat setempat berlangsung setiap hari di sekitar kawasan stasiun yang terbengkalai ini. Kehadiran warga di atas stasiun menunjukkan adaptasi masyarakat terhadap kondisi bangunan yang tidak terawat.
Tanaman ilalang yang tumbuh liar menjadi indikator jelas bahwa stasiun ini tidak terawat sejak lama. Tumpukan sampah di berbagai sudut area stasiun semakin memperkuat kesan bahwa tempat ini telah lama ditinggalkan tanpa perawatan. Dalam bangunan stasiun yang terbengkalai terdapat dua ruangan utama. Salah satunya adalah bekas toilet yang kini hanya menyisakan kloset dan bak penampungan airnya saja.
Saksi Kehidupan yang Mengenang Masa Lalu
Nurhayati, warga berusia 65 tahun yang tinggal tepat di atas stasiun, menceritakan bahwa dulunya tempat ini pernah ramai. Sejak tahun 2006, aktivitas penumpang kereta di stasiun ini telah berhenti total. Keheningan stasiun kini hanya dipecahkan oleh suara kereta yang melintas tanpa berhenti.
“Sekarang kondisinya sudah amburadul, terakhir beroperasi 2006,” ujarnya singkat sambil mencoba mengingat kembali kapan stasiun tersebut terakhir kali beroperasi.
Bagi Nurhayati, pemandangan kumuh di area stasiun telah menjadi tontonan sehari-hari. Ia menyatakan tidak ada pihak yang bertanggung jawab membersihkan stasiun sehingga kondisinya semakin terbengkalai. Kehadiran warga di atas stasiun menjadi bentuk adaptasi masyarakat terhadap bangunan yang tidak terawat.
“Nggak ada (yang bersihkan), terbengkalai. Lihat aja rumputnya sampe bala jadi kotor, jadi kumuh,” ucapnya.
Ia berharap stasiun ini dapat kembali beroperasi. Salah satu alasannya adalah untuk memudahkan mobilitas masyarakat di sekitar rumahnya. Dengan stasiun yang berfungsi, warga tidak perlu lagi ke Stasiun Nambo untuk naik kereta.
“Mudah-mudahan cepat dibangun, kita naik kereta jadi gampang dekat nggak harus ke (Stasiun) Nambo,” bebernya.
Harapan dan Kenangan Kelam yang Tersimpan
Sholihah, warga lain yang berusia 48 tahun, juga merasakan kondisi stasiun yang terbengkalai. Ia mengaku telah mendengar adanya rencana perbaikan di masa depan. Rencana ini memberikan harapan baru bagi masyarakat sekitar yang selama ini menyaksikan stasiun ini dalam keadaan terabaikan.
“Kalau sekarang ya nggak terurus ya, ya nggak terawat lah. Tapi ini nanti katanya sih mau ada perbaikan, mau ada rencananya mau dua jalur,” katanya.
Sebelum KRL jurusan Nambo-Jakarta Kota kembali beroperasi, masyarakat setempat menggelar pasar dadakan setiap hari Jumat di sekitar rel. Namun, pasar tersebut akhirnya berhenti beroperasi setelah kereta api kembali beroperasi karena alasan keamanan. Kehadiran kereta api yang melintas setiap saat menjadi ancaman bagi pedagang dan pembeli.
“Iya, soalnya kan mengganggu aktivitas juga, takut-takut ada kecelakaan juga,” pungkasnya.
Sholihah juga sempat mengingat masa-masa ketika stasiun ini menjadi lokasi pembuangan mayat yang diduga merupakan korban pembunuhan. Beberapa kali pula stasiun ini menjadi tempat kejadian bunuh diri. Kenangan kelam ini masih tersimpan dalam ingatan warga yang telah lama tinggal di sekitar stasiun.
“Ya kalau pembunuhan mah satu kemarin, tahun berapa tuh ya, udah lama tapi ya pas masih ada pasar rel, pasar Jumat, pasar dadakan itu nah. Sekarang mah udah nggak ada,” ucapnya sembari bergidik.
Frequently Asked Questions
Kapan Stasiun Gunung Putri terakhir kali beroperasi?
Stasiun Gunung Putri terakhir kali beroperasi pada tahun 2006. Sejak saat itu, aktivitas penumpang kereta di stasiun ini telah berhenti total, meskipun kereta api masih melintas di jalur tersebut.
Di mana lokasi tepatnya Stasiun Gunung Putri?
Stasiun ini terletak di Desa Gunung Putri, Kecamatan Gunung Putri, Bogor. Area di atas bangunan stasiun dihuni oleh pemukiman warga yang cukup padat.
Apakah ada rencana perbaikan untuk stasiun ini?
Ya, menurut informasi dari warga setempat, ada rencana perbaikan yang mencakup pembangunan dua jalur kereta api. Rencana ini memberikan harapan baru bagi masyarakat sekitar.
Mengapa pasar dadakan di sekitar stasiun berhenti beroperasi?
Pasar dadakan yang digelar setiap hari Jumat berhenti beroperasi setelah KRL jurusan Nambo-Jakarta Kota kembali beroperasi. Kehadiran kereta api yang melintas setiap saat menjadi ancaman keamanan bagi pedagang dan pembeli.
Siapa saja yang tinggal di atas stasiun?
Beberapa warga tinggal di atas stasiun, termasuk Nurhayati yang berusia 65 tahun dan Sholihah yang berusia 48 tahun. Kehadiran mereka menunjukkan adaptasi masyarakat terhadap bangunan yang tidak terawat.
