Berita

Main Agenda: Dasco Ungkap RUU yang Mau Dibahas saat Reses: Perampasan Aset-Ketenagakerjaan

ain Agenda DPR saat Reses: RUU Perampasan Aset dan Ketenagakerjaan Menjadi Prioritas Main Agenda menjadi perhatian utama selama masa reses yang dijalani Dewan

Desk Berita
Published Juli 21, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments
Foto : James Thomas - wahanaberita.com

Main Agenda DPR saat Reses: RUU Perampasan Aset dan Ketenagakerjaan Menjadi Prioritas

Wahanaberita.com – Menjadi perhatian utama selama masa reses yang dijalani Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada periode 2026. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengungkapkan bahwa RUU yang menjadi fokus utama dalam diskusi legislatif saat ini adalah RUU Perampasan Aset dan RUU Ketenagakerjaan. Kedua rancangan undang-undang ini akan dibahas secara intensif dalam beberapa sesi rapat, terutama di Komisi III dan Komisi X, sebagai bagian dari upaya menghasilkan kebijakan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

RUU Perampasan Aset: Proses Revisi yang Membutuhkan Partisipasi Publik

RUU Perampasan Aset, yang telah masuk ke agenda DPR selama reses, dianggap penting dalam mencerminkan kebijakan pemerintah dalam menangani aset negara. Dasco mengatakan bahwa RUU ini sudah dipersiapkan oleh Komisi III selama dua bulan terakhir, dengan tujuan memastikan bahwa kebijakan tersebut tidak hanya menguntungkan pihak-pihak yang terlibat tetapi juga transparan terhadap publik. “Kami meminta partisipasi masyarakat untuk menyampaikan masukan, karena RUU ini berdampak langsung pada pengelolaan aset negara,” terang Dasco usai rapat paripurna di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Dalam proses penyusunan RUU tersebut, DPR berupaya untuk memperhatikan kepentingan berbagai pihak, termasuk pengusaha, pekerja, dan masyarakat luas. Selain itu, RUU ini juga diharapkan dapat memberikan solusi terhadap masalah penyelesaian sengketa aset yang sering terjadi dalam dinamika ekonomi nasional. Dasco menegaskan bahwa revisi RUU ini akan mencakup penguatan mekanisme perampasan aset, termasuk prosedur yang lebih jelas dan pengawasan yang lebih ketat untuk mencegah pemanfaatan aset negara secara tidak tepat.

RUU Ketenagakerjaan: Konsensus untuk Penguatan Perlindungan Pekerja

Main Agenda juga mencakup RUU Ketenagakerjaan, yang menjadi isu penting dalam kebijakan sosial ekonomi. Dasco mengungkapkan bahwa para buruh telah meminta RUU ini menjadi prioritas utama dalam diskusi. “RUU Ketenagakerjaan sangat relevan karena berkaitan langsung dengan kesejahteraan pekerja dan stabilitas ekonomi,” jelasnya.

RUU ini bertujuan untuk mengatur hak-hak pekerja dan perlindungan sosial yang lebih baik, termasuk peningkatan upah minimum, jaminan kesehatan, serta perlindungan terhadap pekerja yang dipecat secara tidak adil. Dalam diskusi, Komisi X juga menekankan pentingnya kesamaan pandangan antara pemerintah dan pihak-pihak terkait, seperti asosiasi buruh dan serikat pekerja. Dengan adanya RUU ini, diharapkan adanya perbaikan dalam sistem ketenagakerjaan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Menurut Dasco, pembahasan RUU yang masuk ke agenda reses ini dilakukan secara cepat karena ada kebutuhan mendesak untuk memperkuat sistem hukum nasional. “Kami berusaha agar RUU ini segera disahkan agar dapat berdampak secara langsung pada kehidupan masyarakat,” imbuhnya. Proses revisi dan finalisasi RUU akan melibatkan berbagai lembaga, termasuk Kementerian Ketenagakerjaan dan lembaga pemerintah lainnya, untuk memastikan keberlanjutan kebijakan tersebut.

Konsensus dalam Pembahasan RUU Lainnya

Selain dua RUU utama, DPR juga akan membahas RUU Satu Data Indonesia dan RUU Lalu Lintas serta Angkutan Jalan (LLAJ). RUU Satu Data Indonesia, yang baru saja disahkan sebagai usulan inisiatif, bertujuan untuk mempercepat integrasi data antarlembaga agar kebijakan publik lebih efektif. Sementara RUU LLAJ akan fokus pada peningkatan keselamatan dan efisiensi transportasi darat.

Dasco menekankan bahwa seluruh RUU yang dibahas selama masa reses akan diarahkan untuk mencerminkan kebutuhan masyarakat. “Main Agenda DPR saat ini adalah menghasilkan undang-undang yang berkualitas dan bisa diterima oleh seluruh elemen masyarakat,” jelasnya. Dalam hal ini, DPR berkomitmen untuk berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk lembaga swadaya masyarakat, agar RUU yang dihasilkan bisa menjadi solusi konkret.

Untuk mempercepat proses, DPR telah menerapkan sistem rapat yang lebih fleksibel, termasuk rapat khusus dan rapat rutin. “Kami ingin memastikan bahwa RUU yang dibahas selama reses bisa selesai dalam waktu yang lebih singkat,” kata Dasco. Dengan memperhatikan kebutuhan berbagai pihak, DPR berharap bisa menghasilkan kebijakan yang efektif dan berdampak luas, baik dalam aspek ekonomi maupun sosial.

RUU Hak Cipta: Dalam Proses Finalisasi

RUU Hak Cipta juga menjadi salah satu Main Agenda DPR selama reses. RUU ini sedang dalam tahap finalisasi, dengan revisi yang terus dilakukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi digital. Dasco menegaskan bahwa RUU Hak Cipta akan mencakup perlindungan bagi kreator dan penyebaran kebijakan yang seimbang antara hak pemilik karya dan akses publik.

Proses ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung inovasi dan kreativitas di sektor ekonomi. Dasco mengatakan bahwa RUU Hak Cipta akan menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem hukum di bidang teknologi dan kreatif. “Kami yakin RUU ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus melindungi hak-hak penulis, seniman, dan pemilik karya,” tambahnya.

Dengan adanya RUU ini, pemerintah berharap bisa mengatasi masalah pelanggaran hak cipta yang sering terjadi di masyarakat. DPR juga akan memastikan bahwa RUU ini tidak hanya mengatur hak-hak kreatif tetapi juga memberikan kemudahan bagi penggunaan karya cipta dalam berbagai sektor, termasuk pendidikan dan bisnis.

Proses Pembahasan RUU: Transparansi dan Kolaborasi

Dalam pembahasan RUU selama reses, DPR memperhatikan transparansi dan partisipasi dari berbagai kalangan. “RUU yang dibahas selama reses akan dibuka untuk masukan publik, baik melalui forum diskusi maupun media sosial,” jelas Dasco. Dengan memperkenalkan mekanisme ini, DPR berharap bisa menciptakan undang-undang yang lebih mumpuni dan mencerminkan suara masyarakat.

Pembahasan RUU juga diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi antarlembaga. “Main Agenda DPR saat ini adalah melibatkan berbagai pihak dalam pembuatan kebijakan,” tambahnya. Dalam hal ini, DPR bersedia mendengarkan aspirasi dari berbagai kelompok, termasuk organisasi masyarakat, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Dasco berharap RUU yang akan diusulkan selama reses bisa segera disahkan agar dapat memberikan dampak positif pada tahun 2027. “DPR akan berusaha agar semua RUU yang menjadi fokus pembahasan bisa menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas kebijakan,” pungkasnya. Dengan Main Agenda yang jelas, DPR berkomitmen untuk memastikan bahwa kebijakan yang dihasilkan bisa memberikan solusi yang optimal bagi masyarakat.

Leave a Comment