Cerita Pilu Pekerja WNA Tewas di Gorong-gorong: Topics Covered
Topics Covered: Tiga korban meninggal akibat kecelakaan kerja di gorong-gorong wilayah Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, pada Kamis, 9 Juli 2026. Dari tiga korban tersebut, satu di antaranya adalah warga negara asing (WNA) yang berusaha menyelamatkan rekan-rekannya. Insiden ini memicu kehebohan dan memperlihatkan bagaimana risiko pekerjaan di lingkungan yang sempit dan berbahaya bisa mengancam nyawa siapa saja.
Peristiwa Mengerikan di Gorong-gorong
Kecelakaan terjadi saat seorang pekerja memasuki gorong-gorong untuk mengecek kondisi proyek. Tidak lama setelah itu, pekerja lain ikut turun dan tidak sadarkan diri. Proses evakuasi memakan waktu hingga 11.55 WIB, di mana petugas pemadam kebakaran (damkar) berhasil menarik korban dari dalam lorong bawah tanah. Menurut Abdul Wahid, Kasiops Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Timur, kondisi di lokasi akhirnya stabil setelah semua korban dievakuasi.
“Korban berhasil dikeluarkan dari dalam gorong-gorong dan situasi sudah aman,” kata Wahid saat memberikan keterangan di Jakarta Timur.
Detail Kecelakaan dan Penyebab Tragedi
Menurut petugas, kecelakaan dimulai ketika satu pekerja terjatuh dan kehilangan kesadaran. Temannya yang ingin menolong justru ikut terjatuh, hingga dua korban dinyatakan meninggal. Wahid menjelaskan bahwa kondisi di dalam gorong-gorong berisiko tinggi karena kurangnya pencahayaan dan aliran udara yang memadai.
“Pekerja proyek masuk gorong-gorong, lalu setengah tangga pingsan. Temannya menolong, tetapi juga pingsan. Selanjutnya satu orang lagi pingsan. Total tiga korban meninggal,” ujarnya.
Korban pertama dan kedua adalah WNA, sedangkan korban ketiga merupakan warga Indonesia. Pekerjaan berlangsung di bawah bimbingan subkontraktor, bukan langsung oleh PAM Jaya, menurut Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
“Saya sudah mendapatkan laporan dari Dirut PAM Jaya. Memang benar ada tiga korban,” kata Pramono saat diwawancara di Cawang, Jakarta Timur, Jumat, 10 Juli 2026.
“Dari tiga korban itu satu WNA, jadi dua warga kita,” tambahnya.
Korban WNA Berteriak Minta Bantuan
Saksi mata, Febri (31), mengungkapkan bahwa dua korban pertama masuk gorong-gorong secara bergantian setelah rekan mereka tidak merespons panggilan dari atas. Korban WNA, yang diduga adalah mandor proyek, terlihat panik dan berteriak meminta bantuan warga sekitar. Meski tidak mengerti bahasa lokal, teriakan korban tersebut cukup mengundang perhatian masyarakat.
“Dia berteriak-teriak di sini. Orang sekitar juga bingung karena bahasanya orang sini nggak tahu. ‘Itu kenapa? Itu kenapa?’ begitu,” ujarnya.
Febri menambahkan bahwa sebelumnya warga mempering
