Wahanaberita
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Tambang Emas Runtuh di Sudan Tewaskan 82 Orang, Puluhan Lainnya Terluka

Published September 17, 2026 · Updated September 17, 2026 · By Jennifer Jackson - wahanaberita.com

Foto : Jennifer Jackson - wahanaberita.com

Runtuhnya Tambang Emas di Kordofan Barat Menewaskan 82 Orang

Wahanaberita.com – Sebuah tambang emas di negara bagian Kordofan Barat, Sudan, ambruk dan menewaskan sedikitnya 82 orang. Tragedi tersebut juga menyebabkan puluhan penambang mengalami luka-luka, sementara sejumlah korban lain masih belum ditemukan di antara tumpukan tanah dan batu.

Upaya pencarian berlangsung sejak Selasa, 15 September 2026, dan berlanjut sepanjang malam. Hingga Rabu pagi, petugas serta warga yang terlibat dalam operasi tersebut telah mengeluarkan 60 jenazah dari lokasi tambang.

Tambahan 22 korban meninggal kemudian ditemukan. Dengan demikian, jumlah korban tewas akibat runtuhnya tambang itu mencapai 82 orang. Seorang administrator lokal yang berada di bawah kendali Rapid Support Forces (RSF) menyebut sekitar 50 orang terluka dalam insiden ini.

"Lima puluh orang terluka dan ada sejumlah orang yang tidak diketahui masih terjebak di bawah reruntuhan," katanya kepada AFP tanpa mau disebutkan namanya karena dia tidak berwenang berbicara atas nama pemerintah.

Peralatan Sederhana Hambat Evakuasi

Penyelamatan dilakukan dalam kondisi yang sangat terbatas. Para penambang yang selamat ikut membantu menggali reruntuhan dengan peralatan sederhana, yakni alat yang sehari-hari mereka gunakan untuk mencari emas. Keterbatasan tersebut membuat proses menyingkirkan material longsoran berjalan lambat dan berisiko.

Khair al-Sayyed Jabara, salah seorang penyintas, menggambarkan beratnya upaya menemukan korban di lokasi kejadian. Ia mengatakan para pekerja berusaha keras menyelamatkan siapa pun yang masih mungkin berada di bawah reruntuhan.

"Semua orang bekerja sangat keras untuk mengambil jenazah atau korban selamat, tapi ini sulit," kata salah satu korban selamat, Khair al-Sayyed Jabara, kepada AFP setelah operasi penyelamatan sepanjang malam bersama rekan-rekan penambang, menggunakan peralatan sederhana yang sama yang mereka gunakan untuk mengekstraksi emas.

"Kami membutuhkan alat berat untuk membersihkan batu dan tanah," imbuhnya.

Kebutuhan akan alat berat menjadi persoalan penting karena reruntuhan tambang dapat terdiri atas batu, tanah, dan struktur galian yang tidak stabil. Dalam situasi seperti ini, penggalian manual bukan hanya memakan waktu, tetapi juga dapat membahayakan orang-orang yang melakukan pencarian.

Tambang Tidak Resmi dan Risiko Berulang

Kecelakaan tambang bukan kejadian asing di Sudan. Kawasan Kordofan di bagian selatan negara itu dikenal kaya sumber daya alam, termasuk emas. Namun, banyak lokasi tambang beroperasi secara tidak resmi dan memiliki kondisi kerja yang buruk.

Tambang seperti Al-Zaraa di Kordofan Barat kerap berupa lubang galian besar dengan standar keselamatan yang minim. Setiap hari, banyak anak muda memasuki area tersebut untuk mencari penghasilan, meski harus menghadapi kemungkinan longsor, runtuhnya dinding galian, serta sulitnya akses bantuan apabila terjadi kecelakaan.

Tingginya pengangguran ikut mendorong banyak warga Sudan untuk terlibat dalam pencarian emas. Bagi sebagian pekerja, pertambangan informal menjadi salah satu sedikit pilihan ekonomi yang tersedia. Namun, ketergantungan pada aktivitas ini menempatkan mereka pada ancaman keselamatan yang terus berulang.

Skala bencana di Kordofan Barat juga memperlihatkan rapuhnya kemampuan penanganan darurat di wilayah tersebut. RSF menguasai Kordofan Barat bersama wilayah Darfur di sekitarnya. Meski pasukan paramiliter itu membentuk kantor pemerintahan dan administrasi lokal sendiri, kapasitas layanan publik yang tersedia masih terbatas.

Keadaan tersebut membuat operasi penyelamatan besar sulit dilakukan. Masyarakat di bagian barat Sudan selama ini banyak bertumpu pada bantuan kemanusiaan dan jaringan komunitas untuk memenuhi kebutuhan dasar maupun menghadapi keadaan darurat.

Emas Menjadi Sumber Dana Konflik

Tambang emas memiliki arti yang jauh lebih luas daripada sekadar mata pencaharian bagi warga setempat. Sejak perang di Sudan pecah, perdagangan emas bernilai miliaran dolar menjadi salah satu sumber pembiayaan utama bagi pihak-pihak yang bertikai.

Sudan merupakan negara terbesar ketiga di Afrika dan termasuk salah satu produsen emas utama di benua tersebut. Produksi emas negara itu mencapai 70 ton pada tahun lalu, angka tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Meski produksi tercatat besar, banyak emas Sudan tidak sepenuhnya masuk ke jalur perdagangan resmi. Para pejabat menyatakan bahwa sebagian besar komoditas itu diselundupkan ke luar negeri melalui perbatasan, termasuk melewati Chad, Sudan Selatan, dan Mesir, sebelum akhirnya mencapai Uni Emirat Arab.

Arus emas yang besar, kondisi keamanan yang tidak stabil, dan maraknya tambang tanpa pengawasan menciptakan situasi berbahaya bagi pekerja. Tragedi di Kordofan Barat menjadi gambaran nyata dari risiko yang dihadapi mereka yang menggantungkan hidup pada galian emas di tengah konflik berkepanjangan.

Ketika pencarian korban masih berlangsung, perhatian utama tertuju pada kemungkinan adanya penambang yang belum berhasil dievakuasi. Ketersediaan alat berat dan dukungan penyelamatan yang memadai akan sangat menentukan kecepatan penanganan di lokasi runtuhan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Tambang Emas Runtuh di Sudan Tewaskan 82?

Tambang Emas Runtuh di Sudan Tewaskan 82 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Tambang Emas Runtuh di Sudan Tewaskan 82 matter?

Tambang Emas Runtuh di Sudan Tewaskan 82 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.