Wahanaberita
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Sempat Serang Irak, Menhan Arab Saudi Kini Sebut ‘Tetangga Tercinta’

Published Agustus 14, 2026 · Updated Agustus 14, 2026 · By Sandra Wilson - wahanaberita.com

Foto : Sandra Wilson - wahanaberita.com

Arab Saudi dan Irak Perkuat Hubungan Setelah Konflik

Wahanaberita.com – Sempat Serang Irak Menhan Arab Saudi, Khalid bin Salman, menegaskan posisi penting Baghdad sebagai "tetangga tercinta" dalam pertemuan diplomatik terbaru. Pernyataan ini menjadi sinyal positif bagi hubungan kedua negara yang sempat memanas akibat serangan udara gabungan. Menteri Pertahanan Kerajaan Arab Saudi tersebut menyampaikan pesan rekonsiliasi kepada para pejabat militer tingkat tinggi dari Irak yang berkunjung ke Riyadh.

Kunjungan Resmi Delegasi Keamanan Irak

Delegasi keamanan Irak tiba di ibu kota Arab Saudi pada Kamis, 18 Agustus 2026, menandai momen bersejarah dalam diplomasi regional. Kedatangan mereka merupakan kunjungan resmi pertama sejak Perdana Menteri Ali al-Zaidi membatalkan perjalanan ke kerajaan tersebut. Pembatalan sebelumnya terjadi menyusul serangan yang melanda Irak pada 29 Juli lalu, yang menyebabkan ketegangan diplomatik signifikan.

Dalam unggahan resmi di platform X, Khalid bin Salman menyampaikan pesan persaudaraan yang mendalam:

"Irak akan tetap menjadi tetangga tercinta. Kami memiliki ikatan persaudaraan, solidaritas, dan saling mendukung dengan pemerintah serta rakyatnya yang bersaudara. Kerajaan akan selalu berdiri bersama Irak untuk mendukung keamanan, stabilitas, pembangunan, dan kemakmurannya, demi kepentingan Irak dan rakyatnya."

Menhan Arab Saudi juga mengungkapkan bahwa ia telah berdiskusi secara intensif dengan Abdul Amir Al-Shammari, Direktur Kantor Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Irak. Menurut keterangan resmi dari kedua pihak, pembahasan mencakup perkembangan hubungan bilateral di bidang militer dan pertahanan, serta dinamika situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang terus berubah.

Langkah Diplomasi Pasca Serangan Udara

Sebelum pertemuan tingkat tinggi antara kedua menteri luar negeri di Amman, ibu kota Yordania, pekan lalu, ketegangan antara Riyadh dan Baghdad masih terasa jelas. Pertemuan di Yordania tersebut menjadi momen penting untuk meredakan situasi setelah serangan gabungan yang menewaskan puluhan pejuang. Kedua negara kini berusaha membangun kembali kepercayaan melalui dialog berkelanjutan.

Khalid bin Salman menambahkan bahwa koordinasi berkelanjutan antara kedua negara sangat penting untuk melayani kepentingan bersama dan menjaga stabilitas regional. Ia menekankan bahwa hubungan persaudaraan antara Arab Saudi dan Irak telah ada sejak lama dan akan terus diperkuat melalui kerja sama multidimensi.

Detail Korban dan Target Serangan

Serangan udara gabungan AS dan Arab Saudi terhadap Irak telah menewaskan minimal 20 anggota bekas aliansi paramiliter yang terdiri dari berbagai kelompok pro-Iran. Kedua negara pengebom menyatakan bahwa aksi mereka merupakan tanggapan atas serangan drone dari Irak yang menargetkan pasukan AS serta fasilitas minyak milik Arab Saudi. Insiden ini memicu respons diplomatik cepat dari berbagai pihak.

Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) mengonfirmasi kepada AFP pada Rabu, 29 Juli 2026, bahwa sedikitnya 20 pejuang tewas dan 32 lainnya mengalami luka-luka berdasarkan perhitungan awal. PMF merupakan aliansi yang sebelumnya terdiri dari kelompok paramiliter dan faksi-faksi yang kini telah terintegrasi ke dalam angkatan bersenjata Irak secara resmi.

Dalam pernyataannya, PMF menjelaskan bahwa "agresi" yang dilancarkan AS dan Arab Saudi menargetkan pangkalan mereka di tujuh provinsi. Lokasi yang diserang mencakup Baghdad, Nineveh di bagian utara Irak, serta Basra di wilayah selatan. Serangan tersebut juga menyebabkan kerusakan material yang signifikan pada infrastruktur militer dan sipil.

PMF mengecam apa yang mereka sebut sebagai "eskalasi berbahaya" terhadap "lembaga keamanan resmi" Irak. Seorang pejabat PMF yang berbicara dengan syarat anonim kepada AFP menyebutkan bahwa serangan di Nineveh dan Provinsi Diyala di Irak tengah merupakan yang paling mematikan. Kerusakan pada fasilitas militer mencapai tingkat yang memerlukan perbaikan substansial.

Presiden Irak Nizar Amedi juga mengeluarkan pernyataan keras melalui Al Jazeera pada Rabu, 29 Juli 2026. Ia menyatakan bahwa serangan tersebut "tidak dapat diterima" dan menegaskan bahwa aksi itu merupakan "pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Irak." Menurut Amedi, serangan yang menargetkan lembaga keamanan resmi tersebut bertentangan dengan hukum internasional serta Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

FAQ: Pertanyaan Umum Tentang Hubungan Arab Saudi-Irak

Apa penyebab utama serangan udara terhadap Irak? Serangan udara dilancarkan sebagai tanggapan atas serangan drone dari Irak yang menargetkan pasukan AS dan fasilitas minyak Arab Saudi.

Kapan kunjungan resmi delegasi Irak ke Riyadh? Kunjungan resmi terjadi pada Kamis, 18 Agustus 2026, setelah pembatalan sebelumnya oleh Perdana Menteri Ali al-Zaidi.

Berapa jumlah korban dalam serangan tersebut? Minimal 20 pejuang tewas dan 32 lainnya mengalami luka-luka berdasarkan konfirmasi dari Pasukan Mobilisasi Populer (PMF).

Apa posisi Arab Saudi setelah serangan? Arab Saudi menyebut Irak sebagai "tetangga tercinta" dan berkomitmen untuk mendukung keamanan serta stabilitas Irak melalui kerja sama bilateral.

Related Reading