Wahanaberita
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Iran Tepis Trump Soal Klaim Selat Hormuz Wilayah AS: Akan Tetap Milik Iran!

Published Agustus 15, 2026 · Updated Agustus 15, 2026 · By Mary Anderson - wahanaberita.com

Foto : Mary Anderson - wahanaberita.com

Iran Menolak Klaim Trump: Selat Hormuz Tetap Milik Teheran

Wahanaberita.com – Teheran memberikan tanggapan tegas atas usulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menginginkan Selat Hormuz ditetapkan sebagai wilayah Amerika Serikat. Pernyataan tersebut muncul setelah konflik bersenjata antara kedua negara berakhir pada akhir Februari 2026 lalu. Iran Tepis Trump Soal Klaim Selat - sebuah respons yang menunjukkan ketegangan diplomatik antara kedua negara superpower tersebut.

Respons Langsung dari Teheran

Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, menyampaikan penolakan keras melalui pernyataan resmi yang dilansir Anadolu Agency pada Sabtu (15/8/2026). Ia menegaskan bahwa jalur perairan strategis tersebut merupakan kedaulatan Iran yang tidak dapat diganggu gugat. Dalam unggahan di platform media sosial X pada Jumat (14/8) waktu setempat, pejabat Iran tersebut menyoroti bahwa klaim Trump tidak cukup hanya dengan cuitan singkat atau kehadiran kapal induk.

"Selat Hormuz adalah milik Iran, saat ini milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran," tegas Gharibabadi.

Ia juga menekankan bahwa Washington seharusnya mengakui kekalahan strategisnya dalam menghadapi Teheran. Menurut Gharibabadi, klaim sepihak tanpa pengakuan resmi dari komunitas internasional tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Iran berpendapat bahwa kedaulatan atas Selat Hormuz telah diakui secara internasional sejak lama melalui berbagai perjanjian dan konvensi maritim.

Posisi Iran Soal Blokade dan Navigasi

Iran bersikeras mengendalikan seluruh aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Teheran menyatakan bahwa pembukaan dan penutupan jalur perairan ini sepenuhnya berada di bawah otoritas Iran. Gharibabadi juga memperingatkan bahwa blokade akan terus diberlakukan selama AS tidak menerima kenyataan kekalahan mereka.

"Selat ini hanya akan ditutup dan dibuka atas perintah Iran, dan selama Anda tidak menerima kenyataan soal kekalahan Anda dan meninggalkan fantasi Anda, Iran akan terus memberlakukan blokade," kata Gharibabadi.

Peserta pernyataan tersebut menambahkan bahwa Iran tidak takut terhadap ancaman maupun aksi unjuk kekuatan dari Amerika Serikat. Langkah-langkah konkret yang telah diambil Teheran termasuk penempatan pasukan militer di sekitar Selat Hormuz dan peningkatan pengawasan terhadap kapal-kapal asing yang melintas.

Klaim Trump dan Bantahan Iran

Sebelumnya, Trump menyampaikan pernyataan kontroversial saat mengunjungi Akademi Kepolisian Nassau County di Garden City, New York. Ia mengklaim akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS setelah mengalahkan Iran dalam perang. Pernyataan ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk Iran Tepis Trump Soal Klaim dengan tegas menolak klaim tersebut.

"Setelah kita selesai mengalahkan Iran, yang sedang mengalami kekalahan telak, saya akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," tegas Trump.

Presiden AS tersebut juga menegaskan bahwa blokade total akan tetap berlaku dan tidak ada kapal yang dapat melintasi Selat Hormuz tanpa persetujuan Washington. Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh Ibrahim Zolfaqari, juru bicara komando terpadu militer Iran di Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya. Ia menyatakan bahwa setiap kapal yang melewati Selat Hormuz wajib mendapatkan izin dan pengawasan dari Iran.

"Tidak ada satu pun kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz tanpa izin dan pengawasan Iran," tegas Zolfaqari.

Konteks Konflik dan Diplomasi

Selat Hormuz merupakan jalur perairan vital bagi pasokan minyak dan gas global. Perselisihan antara Iran dan AS telah berlangsung sejak akhir Februari 2026, dengan Washington menuntut kebebasan navigasi sementara Teheran ingin mengendalikan semua pelayaran. Upaya diplomasi untuk membuka kembali jalur perairan strategis tersebut belum membuahkan hasil konkret.

Para pejabat Iran berulang kali menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama AS terus melakukan intervensi di kawasan, terutama melalui blokade laut. Teheran juga menuduh Washington gagal memenuhi ketentuan dalam nota kesepahaman yang telah disepakati kedua negara. Trump sebelumnya mengklaim bahwa AS memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz dan meyakini akan dapat mempertahankan kendali tersebut.

Namun, posisi Iran tetap teguh bahwa kedaulatan jalur perairan tersebut tidak dapat diganggu gugat oleh negara manapun. Dengan demikian, Iran Tepis Trump Soal Klaim Selat Hormuz sebagai wilayah AS, menegaskan bahwa jalur strategis ini akan tetap menjadi milik Teheran.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Klaim Trump

Apa reaksi resmi Iran terhadap klaim Trump? Iran melalui Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi menyatakan bahwa Selat Hormuz adalah milik Iran dan tidak dapat diganggu gugat oleh negara lain.

Kapan konflik antara Iran dan AS dimulai? Perselisihan antara kedua negara telah berlangsung sejak akhir Februari 2026, dengan Washington menuntut kebebasan navigasi sementara Teheran ingin mengendalikan semua pelayaran.

Apakah Iran akan membuka kembali Selat Hormuz? Teheran menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama AS terus melakukan intervensi di kawasan dan tidak mengakui kekalahan mereka.

Bagaimana posisi internasional terhadap klaim Trump? Klaim Trump belum diakui secara luas oleh komunitas internasional, dan banyak negara mendukung kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.

Related Reading