Dituduh Mencuri Metode Paten Vaksin Covid-19, Moderna, Pfizer, dan BioNTech Berseteru

Wahana Berita – Dalam sebuah perseteruan yang menghebohkan, tiga raksasa farmasi, yaitu Moderna, Pfizer, dan BioNTech, telah dituduh mencuri metode yang telah dipatenkan untuk menciptakan vaksin COVID-19. Promosome LLC, sebuah perusahaan bioteknologi kecil, mengajukan tuntutan atas pelanggaran paten terhadap ketiga perusahaan tersebut. Klaim ini telah menciptakan kegaduhan di industri farmasi dan menyita perhatian media internasional.

Menurut laporan dari Reuters, Promosome LLC menyatakan bahwa mereka telah mengembangkan metode yang digunakan dalam vaksin COVID-19, yang melibatkan para ilmuwan terkemuka seperti peraih Nobel Gerald Edelman yang meninggal pada tahun 2014, Vincent Mauro, dan dua rekannya dari The Scripps Research Institute. Promosome berpendapat bahwa perusahaan-perusahaan besar ini menyalin teknologi yang memungkinkan penggunaan dosis mRNA yang efektif dan aman dalam vaksin.

Bill Camordy, pengacara Promosome, dengan tegas menyatakan, “Ini adalah kasus tentang pembuat vaksin COVID yang memanfaatkan keadaan darurat kesehatan masyarakat untuk menghasilkan miliaran dolar, tetapi tidak membagi keuntungan dengan para pengembang yang sah dari teknologi kunci dalam vaksin ini.”

Vaksin COVID-19, dengan pendekatan yang inovatif, menggunakan mRNA untuk mengirim instruksi ke sistem kekebalan tubuh agar memproduksi protein spesifik guna melawan virus COVID-19. Promosome meyakini bahwa teknologi yang mereka miliki memungkinkan sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan protein dalam jumlah yang cukup untuk melawan virus, dengan menggunakan dosis mRNA yang relatif kecil.

Promosome Melakukan Pertemuan Hukum Untuk Bahas Lisensi Vaksin Covid-19

Tuntutan hukum Promosome menyebutkan bahwa mereka telah melakukan pertemuan dengan Moderna antara tahun 2013 dan 2016 untuk membahas lisensi teknologi tersebut. Selain itu, presiden Promosome juga telah memperlihatkan teknologi ini kepada ilmuwan senior BioNTech pada tahun 2015. Namun, Promosome mengklaim bahwa tidak ada perusahaan yang menyetujui lisensi tersebut.

Kasus ini menjadi sorotan publik karena menggambarkan persaingan sengit dan isu kekayaan intelektual di industri farmasi. Selain mencari keadilan, Promosome juga menginginkan pengakuan dan bagian yang pantas dari keberhasilan vaksin COVID-19 yang telah menjadi tonggak dalam mengatasi pandemi global ini.

Perkembangan lanjutan dalam kasus ini akan sangat menarik untuk dipantau, karena dapat berdampak pada reputasi dan keuangan perusahaan-perusahaan besar tersebut. Sementara itu, dunia tetap menantikan hasilnya dan berharap bahwa perseteruan ini dapat diselesaikan dengan adil dan segera, agar upaya global dalam menghadapi pandemi COVID-19 tidak terhambat oleh perdebatan hukum yang berlarut-larut.

Sumber : detik.com