Wahanaberita
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Waka Badan Sosialisasi MPR Bicara Sejarah Perumusan Pancasila

Published Agustus 17, 2026 · Updated Agustus 17, 2026 · By Mary Anderson - wahanaberita.com

Foto : Mary Anderson - wahanaberita.com

Sejarah Perumusan Pancasila Disorot di Sosialisasi Empat Pilar Bandung

Wahanaberita.com – Sebanyak 250 guru PAUD dari Persatuan Islam Istri yang berasal dari wilayah Bandung Raya, Garut, dan Sumedang berkumpul di Bandung pada Sabtu (15/8/2026) untuk mengikuti kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Berbasis Komunitas. Acara ini merupakan hasil kerja sama antara Badan Sosialisasi MPR RI dengan PP Persatuan Islam Istri.

Pembicara utama dalam kegiatan tersebut adalah Abidin Fikri, Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI. Ia memaparkan bagaimana tiga tokoh pergerakan—Moh. Yamin, Soepomo, dan Soekarno—mengusulkan dasar negara bagi Indonesia merdeka.

Latar Belakang Pembentukan Pancasila

Menurut Abidin Fikri, sebelum proklamasi kemerdekaan, para pendiri bangsa yang duduk dalam BPUPKI telah membahas dasar negara pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945. Dalam pidatonya pada 1 Juni 1945, Soekarno mengajukan lima prinsip fundamental sebagai landasan negara baru, yang ia beri nama Pancasila.

Lima gagasan tersebut meliputi Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Usulan itu kemudian diterima BPUPKI dan disempurnakan oleh Panitia Sembilan menjadi Piagam Jakarta pada 22 Juni.

"Inilah gagasan Bung Karno yang diterima BPUPKI dan disempurnakan oleh Panitia sembilan menjadi Piagam Jakarta pada 22 Juni. Tetapi, pada tanggal 17 Agustus 1945 sore hari, sila pertama Pancasila versi Piagam Jakarta, Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, ditentang oleh masyarakat Indonesia timur. Sehingga ketika konstitusi di tetapkan pada 18 Agustus 1945, sila pertama Pancasila, itu berubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa."

Pernyataan tersebut disampaikan Abidin dalam keterangannya pada 16/8/2026.

Pancasila sebagai Kesepakatan Bersama

Mengingat proses perumusan yang panjang dan menampung aspirasi berbagai kelompok, Abidin menilai tidak berlebihan jika Nahdlatul Ulama menyebut Pancasila sebagai kalimatun sawa, yakni kesepakatan. Dengan alasan itu, ia menegaskan bahwa Pancasila beserta bentuk NKRI wajib terus dijaga, dilestarikan, dan dilindungi dari segala bentuk penyelewengan.

Ia juga menyerukan agar seluruh rakyat Indonesia merawat warisan para pendiri bangsa. Seruan ini, menurutnya, sejalan dengan keteladanan M. Natsir yang gigih mempertahankan bentuk NKRI dari ancaman penjajah Belanda.

"Bentuk negara NKRI pernah diganti menjadi RIS, sesuai keputusan Konferensi Meja Bundar di Den Haag Belanda pada 1949. Tetapi keputusan tersebut ditentang oleh M. Natsir, melalui mosi Integral Natsir yang disampaikan di hadapan rapat parlemen RIS pada 3 April 1950. Usulan tersebut di terima, sehingga bentuk negara Indonesia kembali ke NKRI, maka selamatlah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1944."

Pandangan Ketua Badan Sosialisasi MPR

Dalam kesempatan yang sama, Abraham Liyanto selaku Ketua Badan Sosialisasi MPR RI menambahkan bahwa proses pembentukan Empat Pilar MPR RI melewati tahapan yang tidak ringan, dan penerapannya dalam keseharian pun bukan perkara mudah. Oleh sebab itu, lembaga tersebut menjalin berbagai kerja sama—termasuk dengan PP Persatuan Islam Istri—untuk melaksanakan sosialisasi berbasis komunitas.

"Harapannya, kesepakatan yang sudah diambil oleh para pendiri bangsa bisa diterapkan dalam kehidupan sehari hari."

Abraham mengibaratkan Pancasila sebagai fondasi rumah yang sangat kokoh. Dengan pondasi yang kuat, struktur bangunan di atasnya dapat tersusun rapi dan indah, serta tidak mudah bergoyang atau rusak meski diterpa gempa maupun berbagai ujian lainnya.

"Kita sudah berpengalaman menghadapi segala percobaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena dasar dan pondasi rumah Indonesia ini kuat, maka kita semuanya juga selamat. Karena itu, mari kita jaga dan lestarikan Empat Pilar, dengan cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari."

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Waka Badan Sosialisasi MPR Bicara Sejarah?

Waka Badan Sosialisasi MPR Bicara Sejarah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Waka Badan Sosialisasi MPR Bicara Sejarah matter?

Waka Badan Sosialisasi MPR Bicara Sejarah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.