Targetkan 70% Masalah Sampah Beres 2029, Zulhas Kejar PSEL di 40 Kota
Indonesia Bidik 70–80 Persen Krisis Sampah Tuntas pada 2029
Wahanaberita.com – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, yang akrab disapa Zulhas, memaparkan peta jalan pemerintah untuk menuntaskan sebagian besar persoalan persampahan nasional. Dalam program #ZulhasBikinJelas bersama detikcom, ia menegaskan bahwa pada tahun 2029, sekitar tujuh hingga delapan dari sepuluh masalah sampah di seluruh negeri diharapkan telah terselesaikan.
"Kita akan selesaikan sampai tahun 2029, mudah-mudahan 70-80 persen soal sampah selesai. Tinggal 20 persen sisanya itu di tingkat rumah tangga yang memang memerlukan waktu dan edukasi lebih banyak," kata Zulhas.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan ambisi tersebut sangat ditentukan oleh kedisiplinan masyarakat dalam memilah limbah sejak dari sumber terkecil, sebelum material tersebut diangkut menuju tempat pembuangan akhir.
Percepatan PSEL di 40 Kota Darurat Sampah
Sebagai instrumen utama, pemerintah mempercepat pembangunan instalasi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di 40 kota yang dikategorikan darurat sampah. Proyek-proyek ini ditargetkan rampung pada periode 2027–2028. Fokusnya diarahkan pada kota-kota yang menghasilkan lebih dari 1.000 ton sampah setiap harinya, guna mengurai tumpukan limbah di TPA yang selama ini menjadi pemicu persoalan lingkungan berulang.
"Yang darurat dan besar-besar, di atas 1.000 ton, kita akan buat PSEL atau Waste-to-Energy. Dulu 11 tahun cuma dua izin yang keluar, sekarang kita rapikan melalui Perpres. Alhamdulillah, kita targetkan selesai di 2027-2028 untuk 40 kota darurat sampah," ujar Zulhas.
Zulhas menyoroti bahwa selama satu dekade lebih, hanya dua izin PSEL yang berhasil diterbitkan. Kini, melalui penerbitan Peraturan Presiden, proses perizinan dan pembangunan diarahkan agar jauh lebih terstruktur dan cepat.
Dua Pilar Strategi: Teknologi dan Pemilahan di Sumber
Pemerintah mengombinasikan dua pendekatan sekaligus. Pertama, penerapan teknologi Waste-to-Energy untuk kota-kota berproduksi sampah masif. Kedua, kewajiban pemilahan limbah organik dan anorganik di kawasan komersial, perkantoran, pasar, pusat perbelanjaan, sekolah, serta fasilitas publik. Dengan pengolahan di titik sumber, beban yang diterima TPA diproyeksikan menurun secara drastis.
Tantangan Terbesar: Sampah Rumah Tangga
Walaupun sektor komersial dan publik dapat ditata relatif cepat, Zulhas mengakui bahwa pengelolaan limbah di tingkat domestik merupakan pekerjaan rumah paling krusial. Sekitar 20 persen sisa masalah sampah bersumber dari rumah tangga dan memerlukan pendekatan edukasi yang jauh lebih intensif serta waktu yang lebih panjang.
"Tinggal 20 persen itu rumah tangga, itu perlu waktu lebih banyak. Kuncinya sebetulnya ada di pemilahan. Sekarang kan sampah semua dicampur dan dibawa, makanya muncul gunungan sampah dan bikin masalah baru," ujar Zulhas.
Untuk mengatasi persoalan di tingkat tapak, pemerintah mendorong penerbitan Peraturan Gubernur tentang pemilahan dari sumber di berbagai daerah, termasuk DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Zulhas menegaskan bahwa tanpa terbentuknya budaya memilah limbah organik dan anorganik sejak dari dapur rumah warga, TPA akan terus menerima aliran limbah campuran yang nyaris mustahil diurai secara efisien.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Targetkan 70 Masalah Sampah Beres 2029?Targetkan 70 Masalah Sampah Beres 2029 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Targetkan 70 Masalah Sampah Beres 2029 matter?Targetkan 70 Masalah Sampah Beres 2029 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.