Sosialisasi ProKlim, Ibas Dorong Ngebel Ponorogo Jadi Kawasan Wisata Biru
Ngebel Didorong Menguatkan Wisata Berbasis Lingkungan
Wahanaberita.com – Kecamatan Ngebel di Kabupaten Ponorogo didorong untuk menjadikan pelestarian lingkungan sebagai fondasi pengembangan ekonomi warga dan pariwisata. Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas menilai potensi alam yang telah dimiliki kawasan ini perlu dirawat secara konsisten agar mampu memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan dalam sosialisasi Program Kampung Iklim atau ProKlim bertema “Rawat Alam, Jaga Iklim, Makmurkan Warga” di Kecamatan Ngebel, Ponorogo, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan yang digelar bersama Kementerian Lingkungan Hidup RI itu melibatkan warga dari delapan desa, pegiat lingkungan, kelompok muda, serta karang taruna.
Ngebel dikenal memiliki Telaga Ngebel dan bentang alam pegunungan yang menjadi daya tarik kawasan. Namun, kekuatan daerah ini tidak hanya terletak pada panorama. Pertanian, perkebunan, kuliner, perdagangan, UMKM, dan berbagai kegiatan ekonomi warga juga menjadi bagian dari potensi yang dapat tumbuh seiring lingkungan tetap terjaga.
Merawat yang Sudah Ada
Ibas menekankan bahwa pembangunan wisata tidak selalu harus dimulai dengan menciptakan tujuan baru. Perhatian utama justru perlu diberikan kepada kondisi alam, kebersihan kawasan, kenyamanan pengunjung, serta kemampuan masyarakat menjaga aset yang telah tersedia.
“Kita tidak perlu menciptakan lagi objek wisata. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana kita merawat dan menjaga alam agar tetap baik dan terus maju,” ujar Ibas.
Gagasan ini menempatkan warga sebagai unsur penting dalam pengelolaan kawasan. Alam yang bersih dan hijau tidak hanya mendukung kehidupan sehari-hari, tetapi juga menentukan kesan yang dibawa wisatawan setelah berkunjung. Kualitas udara, pemandangan, makanan lokal, serta keramahan masyarakat dapat membentuk pengalaman yang membuat pengunjung ingin datang kembali.
“Yang diingat wisatawan tentu pemandangannya, udara yang sejuk, kulinernya, dan masyarakatnya yang ramah. Kalau itu kita pertahankan, rawat, dan jaga, wisatawan akan datang dan datang lagi,” kata Anggota Komisi XII DPR RI tersebut.
Dalam konteks ini, wisata tidak berdiri sendiri. Keberlanjutan destinasi bergantung pada kemampuan menjaga air, tanah, vegetasi, ruang publik, dan kebersihan lingkungan. Jika sumber daya alam mengalami kerusakan, dampaknya bukan hanya dirasakan ekosistem, melainkan juga usaha kecil, aktivitas perdagangan, pertanian, dan mata pencaharian warga.
Kebiasaan Kecil untuk Iklim dan Lingkungan
Sosialisasi ProKlim juga menjadi ruang untuk mengajak masyarakat membangun tindakan sederhana yang dapat dilakukan setiap hari. Ibas meminta warga menjaga kebersihan, mengurangi sampah, serta membiasakan pemilahan sampah sesuai jenisnya. Langkah-langkah tersebut dinilai penting untuk menciptakan lingkungan desa yang lebih tertata dan sehat.
“Pro lingkungan itu bukan hanya sekadar menanam pohon mahoni atau pohon randu. Lebih jauh dari itu adalah bagaimana kita menyelamatkan bumi kita,” tutur Ibas.
Penanaman pohon tetap memiliki arti penting, tetapi kepedulian lingkungan perlu hadir dalam kebiasaan yang lebih luas. Pengelolaan sampah, penggunaan ruang yang tertib, perlindungan kawasan hijau, dan kepedulian terhadap kondisi sekitar merupakan bagian dari upaya menjaga iklim di tingkat komunitas.
Ibas berharap pendidikan lingkungan dimulai dari rumah dan diteruskan kepada generasi berikutnya. Budaya membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, serta menjaga area bersama dapat membentuk kesadaran kolektif yang tidak berhenti pada satu kegiatan atau satu kelompok masyarakat saja.
“Mulailah dari sesuatu yang kecil. Menjadi bagian yang sadar terhadap lingkungan, sadar pentingnya wisata alam, dan menjaga kebersihan di manapun kita berada,” ujar Wakil Rakyat dari Dapil Jawa Timur (Jatim) VII itu.
Bagi desa-desa di Ngebel, kebiasaan semacam ini dapat memberi manfaat langsung. Lingkungan yang terawat membantu menciptakan ruang hidup yang nyaman bagi warga sekaligus memperkuat citra kawasan bagi pengunjung. Keterlibatan pemuda dan karang taruna juga membuka peluang agar gerakan lingkungan terus berjalan lintas generasi.
Waspada Kebakaran di Kawasan Pegunungan
Selain pengelolaan sampah dan penghijauan, Ibas menyoroti risiko kebakaran pada kawasan hutan serta pegunungan. Ia menyampaikan keprihatinan atas kebakaran yang terjadi di kawasan Gunung Wilis, yang memiliki nilai ekologis, sosial, dan wisata bagi masyarakat sekitar.
Musim kemarau dengan suhu panas serta kondisi kering dapat meningkatkan potensi kebakaran. Situasi tersebut membutuhkan perilaku yang disiplin, kehati-hatian saat beraktivitas, dan kepedulian bersama untuk mencegah kerusakan meluas. Api yang sulit dikendalikan dapat mengancam keselamatan manusia, satwa, maupun lingkungan hidup.
“Kalau kita tidak tertib, kalau kita tidak menyayangi lingkungan, bisa terjadi kebakaran, bisa terjadi kerusakan yang akhirnya membahayakan jiwa dan raga kita, termasuk satwa dan lingkungan hidup,” kata Ibas.
Ia mengingatkan bahwa penanganan kebakaran bukan pekerjaan mudah. Karena itu, peran orang tua, tokoh masyarakat, generasi muda, aparatur, dan seluruh warga dibutuhkan untuk meningkatkan kewaspadaan serta menjaga ketertiban di sekitar kawasan alam.
“Untuk memadamkan api tidak mudah. Karena itu diperlukan komitmen dari bapak ibu semua dan diperlukan ketegasan dari para orang tua dan aparatur,” ujar Ibas.
Kolaborasi Delapan Desa
Ibas mengapresiasi Kementerian Lingkungan Hidup dan pemerintah daerah yang terus mengangkat isu lingkungan melalui berbagai program, termasuk ProKlim. Ia menegaskan bahwa pekerjaan menjaga lingkungan tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Desa dan komunitas perlu menjadi pelaku aktif, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Kolaborasi delapan desa di Kecamatan Ngebel dipandang penting untuk menyatukan langkah dalam perlindungan alam dan pengembangan ekonomi warga. Kerja bersama dapat memperkuat kesadaran bahwa pariwisata, pertanian, perdagangan, serta UMKM memiliki hubungan erat dengan kualitas lingkungan kawasan.
“Kita ingin Kecamatan Ngebel benar-benar menjadi penyangga peningkatan perekonomian Kabupaten Ponorogo dan menjadikan masyarakatnya lebih sejahtera,” ungkap Ibas.
Dengan menjaga Telaga Ngebel, kawasan hijau, kebersihan desa, dan ruang-ruang produktif masyarakat, Ngebel memiliki peluang untuk berkembang sebagai kawasan wisata biru yang mengutamakan keberlanjutan. Arah tersebut menempatkan alam bukan sekadar latar wisata, melainkan modal utama bagi kesejahteraan warga Ponorogo.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Sosialisasi ProKlim Ibas Dorong Ngebel Ponorogo?Sosialisasi ProKlim Ibas Dorong Ngebel Ponorogo is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Sosialisasi ProKlim Ibas Dorong Ngebel Ponorogo matter?Sosialisasi ProKlim Ibas Dorong Ngebel Ponorogo matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.