Wahanaberita
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Solving Problems: Sorotan Kemlu Atas Aksi Pemuda Madiun Kabur Saat Tur di Korsel

Published Juli 19, 2026 · Updated Juli 19, 2026 · By James Thomas

Solving Problems: Kemlu Soroti Pemuda Madiun Kabur Saat Tur di Korsel

Solving Problems - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) memberikan perhatian khusus terhadap aksi seorang peserta rombongan wisata dari Madiun, Jawa Timur, yang menghilang saat melakukan perjalanan ke Korea Selatan (Korsel). Peristiwa ini menjadi sorotan karena terkait dengan peningkatan keimigrasian dan pentingnya disiplin dalam menjalani perjalanan luar negeri. Kemlu menekankan bahwa peristiwa ini adalah bagian dari upaya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul dari kebijakan bebas visa yang diberikan kepada Warga Negara Indonesia (WNI).

"Kemlu mencermati laporan mengenai adanya individu WNI dengan nama FY (pria, 21 tahun) yang diduga memanfaatkan fasilitas kemudahan masuk ke Korsel, lalu meninggalkan kelompok wisata dan menyalahi aturan yang berlaku di negara tujuan," tutur Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, saat dihubungi, Sabtu (18/7/2026).

Peristiwa Kabur dan Penyebabnya

Kemlu mengungkapkan bahwa Femas, peserta tur yang kabur, diduga melanggar aturan dengan meninggalkan rombongan sebelum masa tinggalnya berakhir. Duta Besar RI di Seoul juga mengimbau WNI untuk tetap mematuhi peraturan imigrasi guna menjaga harmoni dalam hubungan bilateral. "Kesadaran peserta tur tetap menjadi faktor penting dalam mempertahankan kepercayaan otoritas negara mitra serta mendukung kebijakan pemerintah dalam mengembangkan hubungan bilateral," tambah Heni, menjelaskan pentingnya penyelesaian masalah ini.

Kemlu menekankan bahwa pengelolaan rombongan wisata harus lebih ketat, terutama dalam mengawasi keberadaan peserta yang berada di luar area yang ditetapkan. Kebijakan bebas visa yang diberikan Korsel kepada WNI sejak beberapa tahun lalu dianggap sebagai faktor yang memudahkan akses, namun juga bisa menjadi penyebab masalah jika tidak diimbangi dengan kesadaran disiplin. "Penyelesaian masalah ini perlu dilakukan secara bersama oleh penyelenggara tur dan pihak imigrasi," tambah Heni, menyoroti pentingnya kerja sama antarinstansi.

Keluhan dari Travel dan Proses Penanganan

Dilansir detikJatim, Wiky, Marketing Manager dari Berani Backpacker, menjelaskan bahwa rombongan Femas berangkat dari Jakarta pada 27 Juni 2026. Peserta diberikan waktu bebas setelah agenda tur selesai, yaitu pada 28 Juni 2026. "Selama hari pertama, mereka diberikan kebebasan untuk menjelajah ke wilayah Myeongdong. Di sana, Femas mengajukan pamitan untuk mencari sepatu," kata Wiky, dalam wawancara terkait penyelesaian masalah ini.

Wiky menyebutkan bahwa Femas seharusnya tinggal di kamar bersama tour leader. Saat TL kembali ke hotel, ia menyuruh Femas masuk kamar karena pintu sengaja dihambat untuk memudahkan akses. Namun, Femas tidak kembali dan hanya mengirimkan notifikasi melalui WhatsApp satu atau dua kali. "Awalnya, kami pikir Femas terlambat atau ada kendala, tapi setelah hari keempat, tim lokal langsung membuat laporan ke Kepolisian Korsel," lanjut Wiky, menjelaskan langkah-langkah penyelesaian masalah yang diambil.

Menurut Wiky, proses pengambilan tindakan lebih lanjut bisa dilakukan setelah masa izin tinggal Femas berakhir. Ia menghabiskan 15 hari di Korsel, dan sudah overstay sejak 12 Juli 2026. Kemlu dan KBRI Seoul berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan otoritas setempat guna menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. "Kebijakan bebas visa adalah bagian dari upaya pemerintah untuk memperluas akses pariwisata, tetapi harus diiringi penyelesaian masalah yang muncul," tambah Wiky, dalam penjelasannya.

Keluarga Tidak Tahu Detail

Ibu Femas, MT (56), mengungkapkan kejutan terbesarnya ketika mengetahui putranya diduga kabur. Ia bahkan tidak tahu bahwa Femas telah berangkat ke Korsel. "Saya mendapat informasi dari pihak yang mengaku dari travel datang ke rumah, kalau ndak salah tanggal 15 Juli kemarin. Katanya anak saya kabur," ujar MT, dilansir detikJatim, Sabtu (18/7/2026).

MT menyebutkan bahwa keluarganya sempat mengira Femas masih berada di rumah. Informasi tentang kaburnya Femas sampai terlambat terdengar, sehingga keluarga tidak bisa langsung memberikan bantuan. "Kami berharap ada penyelesaian masalah yang lebih cepat agar kejadian serupa tidak terulang," harap MT, menyoroti pentingnya peningkatan pengawasan dalam rombongan wisata.

Kemlu dan KBRI Seoul sedang mengevaluasi kebijakan yang diterapkan dalam rombongan tersebut. Mereka juga berupaya memperbaiki protokol keberangkatan agar tidak ada lagi kejadian seperti ini. "Penyelesaian masalah ini tidak hanya tentang individu, tetapi juga tentang sistem yang mengatur perjalanan WNI ke luar negeri," kata Heni, menegaskan peran Kemlu dalam menyelaraskan kebijakan antarinstansi.