Prabowo Tegaskan Sensus Bukan untuk Kejar Kekayaan: Isi Sejujur-jujurnya
Prabowo Tegaskan Sensus Bukan untuk Kejar Kekayaan Pribadi
Wahanaberita.com – Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan bahwa sensus ekonomi yang sedang berjalan bukan bertujuan untuk mengejar kekayaan maupun pendapatan individu. Pernyataan ini disampaikan secara tegas saat memaparkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 serta Nota Keuangan di gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, pada Jumat (14/8/2026). Prabowo Tegaskan Sensus Bukan untuk Kejar - sebuah pesan penting yang ingin disampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia agar tidak khawatir saat mengisi formulir sensus.
Menurut Presiden, terdapat hubungan yang sangat erat antara angka-angka dalam APBN dengan kualitas data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Ia menjelaskan bahwa fondasi perencanaan anggaran negara sangat bergantung pada akurasi informasi makroekonomi yang diperoleh dari kegiatan sensus.
"Angka-angka APBN kita sangat bergantung dengan angka-angka makroekonomi kita. Angka-angka makroekonomi kita sangat bergantung dari kualitas data yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik kita," kata Prabowo.
Presiden juga mengungkap bahwa Indonesia telah lebih dari satu dekade tidak melakukan rebasing atau pembaruan metode perhitungan aktivitas ekonomi nasional. Langkah ini dinilai sangat penting untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat tentang kondisi perekonomian negara saat ini.
"Saya mendapat laporan, sudah lebih dari 10 tahun kita belum melakukan rebasing atau pembaharuan cara kita menghitung berapa sebenarnya aktivitas ekonomi yang terjadi di negara kita," lanjutnya.
251 Ribu Petugas di Seluruh Desa
Untuk melaksanakan pendataan secara menyeluruh, pemerintah mengerahkan sebanyak 251 ribu petugas sensus ke seluruh desa di Indonesia. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung hingga akhir bulan Agustus 2026. Prabowo meminta para wakil rakyat dan masyarakat umum untuk turut serta mengajak orang-orang di sekitar mereka berpartisipasi dalam sensus tersebut.
"Oleh karena itu, sensus ekonomi yang sekarang dijalankan sampai akhir bulan Agustus 2026, yang dilakukan oleh 251 ribu petugas sensus, bekerja di seluruh desa kita, perlu kita pastikan berhasil. Saya minta agar Saudara-saudara sekalian wakil wakil rakyat dan seluruh rakyat Indonesia yang mendengarkan pidato saya saat ini," ujarnya.
Data untuk Kebijakan yang Lebih Tepat
Kejujuran dalam mengisi formulir sensus menjadi kunci agar pemerintah dapat menyusun kebijakan dan anggaran secara lebih presisi. Prabowo menekankan bahwa data sensus ekonomi tidak akan dipakai untuk mengejar kekayaan atau pendapatan pribadi yang dilaporkan oleh masyarakat. Ia berharap setiap warga negara mengisi data dengan sejujur-jujurnya.
"Saya minta agar Saudara-saudara tidak hanya mengisi formulir sensus dengan sejujur-jujurnya, tapi juga mengajak semua orang untuk ikut mengisi dengan sejujur-jujurnya. Data yang dikumpulkan BPS dari sensus ekonomi tidak akan digunakan untuk mengejar kekayaan atau pendapatan pribadi yang dilaporkan," ucapnya.
Sebagai ilustrasi, Prabowo menyoroti peran data sensus dalam penyusunan RAPBN 2027. Pemerintah mengasumsikan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp 27.987 triliun dengan pembiayaan sebesar Rp 671,2 triliun, sehingga defisit APBN diperkirakan sebesar 2,40 persen terhadap PDB. Namun, jika PDB ternyata lebih besar sesuai perkiraan banyak lembaga internasional, maka defisit akan menjadi lebih kecil.
"Data dari sensus ekonomi akan digunakan untuk kita bisa lebih tepat menyusun kebijakan dan anggaran. Sebagai contoh, di RAPBN 2027, kita mengasumsikan besar PDB kita mencapai Rp 27.987 triliun. Jika pembiayaan sebesar Rp 671,2 triliun, maka defisit APBN sebesar 2,40 persen terhadap PDB," ujarnya.
Selain itu, pembaharuan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) juga akan dilakukan berdasarkan hasil sensus ekonomi tahun 2026. Hal ini menegaskan betapa pentingnya kegiatan sensus bagi pembangunan nasional dan perencanaan jangka panjang Indonesia.
"Tapi jika ternyata PDB kita lebih besar yang banyak lembaga internasional mengatakan seperti itu, maka defisit kita lebih kecil. Selain itu, pembaharuan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional atau DTSEN juga akan kita lakukan dari hasil sensus ekonomi tahun 2026 ini. Karena itu sensus ekonomi ini sangat penting," lanjut Prabowo.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Sensus Ekonomi 2026
1. Kapan sensus ekonomi 2026 berlangsung? Sensus ekonomi 2026 dijadwalkan berlangsung hingga akhir bulan Agustus 2026 dengan melibatkan 251 ribu petugas di seluruh desa Indonesia.
2. Apakah data sensus akan digunakan untuk mengejar kekayaan? Tidak. Prabowo Tegaskan Sensus Bukan untuk Kejar kekayaan pribadi. Data yang dikumpulkan BPS hanya digunakan untuk menyusun kebijakan dan anggaran negara.
3. Mengapa Indonesia perlu melakukan rebasing? Indonesia sudah lebih dari 10 tahun tidak melakukan rebasing. Pembaruan metode perhitungan ini penting untuk mendapatkan gambaran akurat tentang aktivitas ekonomi nasional.
4. Apa hubungan sensus dengan RAPBN 2027? Data sensus membantu pemerintah mengasumsikan PDB yang lebih tepat. Jika PDB lebih besar dari Rp 27.987 triliun, maka defisit APBN akan lebih kecil dari 2,40 persen.
5. Apa itu DTSEN? Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) adalah database terpadu yang akan diperbarui berdasarkan hasil sensus ekonomi tahun 2026 untuk mendukung pembangunan nasional.