Wahanaberita
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pencarian Rombongan Jurnalis: Waktu Diperpanjang, Area Diperluas

Published September 16, 2026 · Updated September 16, 2026 · By Mary Davis - wahanaberita.com

Foto : Mary Davis - wahanaberita.com

Operasi SAR Rombongan Jurnalis Diperpanjang Tiga Hari

Wahanaberita.com – Upaya menemukan rombongan jurnalis yang hilang kontak saat berada di perairan Gunung Anak Krakatau belum menghasilkan temuan setelah tujuh hari operasi. Tim pencarian dan pertolongan kini melanjutkan operasi selama tiga hari tambahan, sekaligus memperlebar cakupan pencarian hingga pesisir Bengkulu dan Pulau Enggano.

Rombongan yang berada di kapal Arupadhatu I terdiri atas lima jurnalis, dua anak buah kapal, serta seorang pemandu. Perpanjangan operasi dilakukan setelah adanya permohonan dari keluarga dan Pemerintah Provinsi Banten, dengan harapan seluruh orang di dalam rombongan dapat ditemukan dalam keadaan selamat.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, menyampaikan bahwa evaluasi pada hari ketujuh belum menunjukkan hasil. Meski demikian, unsur gabungan tetap melanjutkan pencarian dengan armada yang telah disiapkan.

“Saya menyampaikan evaluasi hasil operasi SAR hari ketujuh, yang kita laksanakan hari ini masih nihil. Dan hasil rapat koordinasi yang disampaikan Pak Gubernur, kita akan lanjutkan selama tiga hari ke depan,” kata Al Amrad di Pos SAR gabungan Carita, Pandeglang, Senin (14/9).

Perpanjangan tersebut berlangsung dalam kerangka ketentuan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan. Aturan itu menetapkan operasi pencarian awal selama tujuh hari, tetapi membuka peluang perpanjangan dalam kondisi tertentu, termasuk atas permintaan keluarga serta pemerintah daerah.

Dukungan Pemerintah Daerah dan Unsur Gabungan

Gubernur Banten Andra Soni meminta seluruh pihak yang terlibat meningkatkan upaya pencarian. Ia menyebut dukungan diperlukan dari Basarnas, Polda Banten melalui Polairud, Lanal Banten, serta berbagai unsur lain yang memiliki kemampuan dan sumber daya untuk operasi di laut.

“Sesuai dengan undang-undang SAR nomor 29 tahun 2014 di mana waktu pencarian tertera tujuh hari, namun dapat diperpanjang atas beberapa sebab, salah satunya atas permintaan keluarga dan juga permintaan dari pemerintah daerah setempat,” kata Andra Soni di Pandeglang, Senin (14/9/2026).

“Oleh karena atas nama pemerintah Provinsi Banten, kami memohon dan meminta kepada Basarnas, juga meminta dukungan dari Polda Banten dalam hal ini Polairud dan juga Lanal Banten dan seluruh stakeholder yang ada di Provinsi Banten, untuk kiranya dapat melanjutkan operasi ini, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” tambahnya.

Dalam operasi seperti ini, pencarian tidak hanya bergantung pada penyisiran visual di permukaan laut. Tim menggunakan pemetaan wilayah, perkembangan kondisi perairan, serta pertimbangan data cuaca dan aktivitas vulkanik. Al Amrad menjelaskan bahwa langkah pencarian sejak awal disusun dengan memperhitungkan data dari BMKG dan PVMBG.

Evaluasi juga dilakukan setiap hari untuk mengetahui sektor yang telah dilalui, hambatan yang dihadapi di lapangan, dan area yang perlu kembali diperiksa. Armada yang sebelumnya siaga tetap menjadi bagian dari operasi lanjutan tersebut.

“Seperti biasanya, tadi kita sudah sampaikan dari hari pertama sampai dengan hari ketujuh kita evaluasi kembali apa yang menjadi tantangan kita dan objek yang mana yang belum kita lalui,” ujar Al Amrad.

Area Pencarian Menjangkau Bengkulu dan Pulau Enggano

Memasuki hari kedelapan pada Selasa (15/9/2026), operasi diperluas ke sejumlah jalur laut. Pemantauan turut mencakup garis pantai Bengkulu dan Pulau Enggano. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi kemungkinan pergerakan korban maupun benda yang berkaitan dengan insiden tersebut ke arah wilayah yang lebih jauh.

“Pada hari kedelapan ini, pencarian kembali kami perluas melalui beberapa sektor laut dengan melibatkan unsur SAR gabungan, baik dari Basarnas, TNI, Polri, maupun potensi SAR lainnya,” kata Al Amrad.

“Kami juga melakukan pemantauan terhadap wilayah pesisir Bengkulu dan Pulau Enggano, sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan adanya pergerakan korban atau benda yang berkaitan dengan kejadian ini,” imbuhnya.

Total wilayah yang direncanakan untuk disisir mencapai sekitar 3.962 mil laut persegi. Area tersebut dibagi menjadi lima sektor agar penugasan kapal dan personel dapat dilakukan lebih terarah. Cakupan yang luas menunjukkan tantangan pencarian di perairan terbuka, terutama ketika belum ditemukan petunjuk yang dapat mempersempit titik pencarian.

Kasubsie Operasi dan Siaga Basarnas Banten, Rizky Dwianto, menyampaikan bahwa Kantor SAR Bengkulu ikut membantu penanganan di area yang masuk dalam jangkauan wilayahnya. Koordinasi ini memungkinkan sektor di sekitar Bengkulu ditangani oleh tim yang lebih dekat dengan lokasi pemantauan.

“Kita sudah memetakan, dan kita dibantu oleh kantor SAR Bengkulu untuk meng-cover wilayah Kantor SAR Bengkulu,” ucap Rizky.

Ia berharap perluasan pencarian dapat memunculkan petunjuk baru mengenai keberadaan rombongan tersebut. Pemetaan yang dilakukan tim mengarahkan sebagian prediksi area pencarian ke wilayah kerja Kantor SAR Bengkulu.

“Sehingga untuk SAR map yang kita prediksikan itu mengarah ke wilayah kantor SAR Bengkulu itu sudah di-cover dengan teman-teman kantor SAR Bengkulu,” katanya.

Dua Puluh Kapal dan Drone Thermal Diterjunkan

Pada hari kedelapan, sebanyak 20 kapal dikerahkan untuk menyisir lima sektor di Selat Sunda. Jumlah itu menjadi pengerahan kapal terbesar sejak operasi dimulai. Sehari sebelumnya, Senin (14/9), tim mengoperasikan 18 kapal.

“Luas area pencarian hari ini untuk tim yaitu 3.962 nautical mile persegi. Untuk pembagian sektornya kita bagi di lima sektor. Kemudian alut yang terlibat itu ada 20 kapal,” ujar Rizky Dwianto.

Pencarian dari udara juga tetap menjadi bagian dari strategi operasi. Dua drone thermal milik Basarnas disiapkan untuk membantu pengamatan udara, terutama untuk memperluas kemampuan pemantauan di area yang sulit dijangkau hanya dengan kapal.

“Selain pencarian di laut, tim SAR gabungan juga menyiapkan dua unit drone thermal Basarnas untuk mendukung pemantauan dari udara,” kata Al Amrad.

Sebelumnya, penyisiran melalui helikopter HR-3604 telah dilakukan selama sekitar dua jam. Namun, kru helikopter belum melihat tanda-tanda keberadaan rombongan di area yang dilintasi. Pencarian lanjutan tetap difokuskan pada sektor laut, pantai, dan wilayah perluasan yang telah dipetakan.

“Kemarin dengan HR-3604 kita sudah melaksanakan penyisiran di seluruh area dengan kurang lebih kemarin penerbangan selama dua jam. Dan untuk informasi dari kru heli, itu memang tidak ada tanda-tanda ditemukan,” kata Rizky.

Perpanjangan operasi memberi waktu tambahan bagi tim gabungan untuk menguji kembali hasil pemetaan, menjangkau sektor yang belum tercakup secara optimal, dan menjaga koordinasi lintaswilayah. Bagi keluarga rombongan Arupadhatu I, setiap penyisiran yang dilakukan tetap menjadi bagian penting dari harapan agar ada kabar mengenai delapan orang yang hilang kontak tersebut.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Pencarian Rombongan Jurnalis?

Pencarian Rombongan Jurnalis is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pencarian Rombongan Jurnalis matter?

Pencarian Rombongan Jurnalis matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.