Pameran There Was Something Here Before, Telusuri Hubungan RI-Afsel
Pameran Seni di Jakarta Menghubungkan Jejak Indonesia dan Cape Town
Wahanaberita.com – Sejarah perjalanan manusia di kawasan Samudra Hindia menjadi sorotan dalam pameran There Was Something Here Before karya Zahira Asmal yang dibuka di Erasmus Huis, Jakarta. Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon meresmikan pameran tersebut, yang menghadirkan pertautan sejarah Indonesia dengan Cape Town, Afrika Selatan, selama lebih dari tiga abad.
Pameran berlangsung mulai 3 Oktober hingga 23 Desember 2026. Melalui karya seni, ingatan, kajian, serta percakapan lintas budaya, pengunjung diajak memahami kembali keberadaan masyarakat asal Indonesia yang ikut membentuk kehidupan sosial dan kebudayaan Cape Town.
Ruang pamer ini tidak hanya menempatkan sejarah sebagai kumpulan catatan masa lalu. Kisah perpindahan, pengasingan, pembentukan komunitas, dan warisan budaya dipertemukan untuk menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Afrika Selatan memiliki akar yang panjang. Dalam konteks itu, keterhubungan dengan Belanda dan Sri Lanka juga menjadi bagian penting dari lintasan sejarah yang dibicarakan.
Ruang Dialog Budaya
Fadli menyampaikan penghargaan kepada Kedutaan Besar Kerajaan Belanda dan Erasmus Huis atas penyelenggaraan pameran tersebut. Erasmus Huis dipandang memiliki posisi penting sebagai wadah perjumpaan kebudayaan antara Indonesia dan Belanda, sementara pameran kali ini memperluas cakupan dialog dengan menghadirkan Afrika Selatan.
“Pameran 'There Was Something Here Before' mengajak kita melihat kembali sejarah bersama melalui seni, kajian, dan dialog. Karya ini mempertemukan Indonesia, Belanda, dan Afrika Selatan dalam satu kerangka sejarah dan kebudayaan yang saling terhubung,” ucap Fadli.
Ia juga menilai karya Zahira Asmal membuka ruang untuk melihat kota dan masyarakat melalui lapisan pengalaman yang lebih luas. Ingatan kolektif, perjalanan komunitas, serta kisah-kisah yang kerap berada di pinggir narasi resmi menjadi unsur yang memberi makna pada pameran ini.
“Saya mengapresiasi Zahira Asmal yang mengajak kita melihat lebih dalam berbagai lapisan ingatan, komunitas, dan sejarah yang membentuk sebuah kota,” sambungnya.
Bagi pengunjung, pendekatan tersebut menawarkan cara lain untuk membaca sejarah. Arsip tertulis tetap penting, tetapi pemahaman tentang masa lalu juga dapat tumbuh dari benda, suara, foto, ruang, dan ingatan yang diwariskan antargenerasi.
Syekh Yusuf dan Jejak Pengasingan
Salah satu tokoh utama dalam hubungan historis Indonesia dan Afrika Selatan adalah Syekh Yusuf al-Makassari. Fadli menguraikan bahwa Syekh Yusuf pernah mendukung Sultan Ageng Tirtayasa dalam perlawanan terhadap perluasan kekuasaan VOC di Banten.
Pada 1683, Syekh Yusuf ditangkap. Setahun setelahnya, ia dibuang ke Sri Lanka. Pemerintah kolonial Belanda kemudian memindahkannya ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan, pada 1693. Perpindahan tersebut merupakan bagian dari upaya menjauhkannya dari jaringan masyarakat yang mendukung perjuangannya.
Namun, pengasingan tidak menghentikan pengaruhnya. Di Cape Town, Syekh Yusuf terus mengajarkan nilai-nilai keagamaan dan menjadi figur penting bagi kehidupan spiritual serta komunitas setempat. Jejaknya masih dikenali melalui makam keramat dan masyarakat yang tumbuh di sekitar memori tentang dirinya.
“Pengasingan Syekh Yusuf dimaksudkan untuk memisahkannya dari masyarakat dan jaringan yang selama ini mendukung perjuangannya. Namun, gagasan dan pengaruhnya tidak pernah terputus,” jelas Fadli.
“Di Cape Town, beliau terus mengajar dan menjadi pusat kehidupan spiritual serta komunitas. Warisannya masih dapat kita lihat hingga hari ini melalui keberadaan makam keramatnya dan masyarakat yang tumbuh di sekitar sejarah serta ingatannya,” sambungnya.
Kisah Syekh Yusuf memperlihatkan bahwa sejarah hubungan antarnegara tidak selalu terbentuk melalui diplomasi resmi. Dalam banyak kesempatan, hubungan tersebut juga lahir dari perjalanan individu, komunitas diaspora, dan ketahanan budaya yang tetap hidup dalam situasi sulit.
Program Kebudayaan Lintas Kota
Kementerian Kebudayaan menyiapkan langkah lanjutan untuk memperkenalkan warisan Syekh Yusuf kepada khalayak yang lebih luas. Salah satunya berupa pameran Sacred Journey of Sheikh Yusuf Al Makasari: Legacy of Knowledge, Freedom, and Humanity di Indonesia House Amsterdam, Belanda.
Program di Amsterdam itu direncanakan disertai seminar ilmiah internasional dan pemutaran film. Selain itu, Kementerian Kebudayaan tengah mengembangkan rencana pembentukan rumah budaya dan museum Indonesia di Cape Town.
“Kita ingin membangun kesinambungan dialog kebudayaan dari Jakarta, Amsterdam, hingga Cape Town. Melalui berbagai program tersebut, sejarah Syekh Yusuf dapat terus dikaji dan diperkenalkan kepada masyarakat luas,” ungkap Fadli.
“Kami juga berharap kehadiran rumah budaya dan museum Indonesia di Cape Town dapat menjadi jembatan kebudayaan yang memperkuat hubungan Indonesia dan Afrika Selatan secara berkelanjutan,” sambungnya.
Rencana tersebut menempatkan Jakarta, Amsterdam, dan Cape Town sebagai kota-kota yang dapat saling berbagi pembacaan sejarah. Pameran di Erasmus Huis menjadi salah satu pintu masuk untuk memperluas pemahaman masyarakat terhadap warisan Indonesia yang hidup jauh dari wilayah asalnya.
Menghidupkan Ingatan Bersama
Fadli mengajak berbagai pihak menjadikan pameran ini sebagai kesempatan belajar bersama. Ia berharap dialog yang muncul dari karya-karya tersebut dapat memperkuat relasi kebudayaan antara Indonesia, Belanda, dan Afrika Selatan, sekaligus mendukung kerja sama lintas negara dalam rangka memperingati 400 tahun Syekh Yusuf al-Makassari.
“Selalu ada sesuatu yang hadir sebelum apa yang kita lihat hari ini. Ada kehidupan, perjalanan, perjuangan, dan komunitas. Tanggung jawab kita adalah menghadirkan sejarah tersebut agar dapat dikenali, dilestarikan, dan dimaknai oleh generasi baru,” kata Fadli.
Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen turut menekankan bahwa pameran ini membawa kisah lintas Indonesia, Afrika Selatan, Sri Lanka, dan Belanda. Sejarah tersebut dapat didekati bukan semata lewat dokumen atau arsip, melainkan juga melalui ingatan, objek, suara, serta fotografi yang merekam pengalaman masyarakat dari generasi ke generasi.
Dengan demikian, There Was Something Here Before menghadirkan lebih dari sekadar pameran seni. Pameran ini membuka kesempatan untuk melihat kembali perjalanan panjang manusia, gagasan, dan komunitas yang ikut membentuk hubungan Indonesia dengan kawasan lain di dunia.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Pameran There Was Something Here Before?Pameran There Was Something Here Before is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Pameran There Was Something Here Before matter?Pameran There Was Something Here Before matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.