Mendikdasmen: Murid Punya Fisik Beda-Tak Mampu Sering Jadi Sasaran Bullying
Kerentanan Perundungan di Sekolah Perlu Dipahami dari Berbagai Faktor
Wahanaberita.com – Murid dengan kondisi fisik yang berbeda, kemampuan akademik di bawah rata-rata, serta latar belakang ekonomi keluarga yang terbatas disebut memiliki kerentanan lebih besar untuk mengalami perundungan di lingkungan sekolah. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menguraikan sejumlah kelompok yang kerap menjadi sasaran kekerasan antarmurid dalam diskusi Kosgoro di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Pembahasan ini menegaskan bahwa perundungan bukan sekadar persoalan konflik biasa di antara anak-anak. Tindakan tersebut sering berangkat dari penilaian terhadap perbedaan, lalu berkembang menjadi relasi kuasa antara pihak yang merasa lebih kuat dengan mereka yang dipandang lebih lemah atau tidak sama dengan kelompoknya.
Perbedaan Fisik Sering Menjadi Sasaran
Mu'ti menyampaikan bahwa anak yang penampilannya dianggap berbeda dari kebanyakan teman sebayanya dapat menghadapi risiko lebih besar. Perbedaan itu dapat berupa tubuh yang lebih kecil, terlalu tinggi, atau ukuran tubuh yang lebih besar.
“Fisik yang berbeda dari umumnya.”
Dalam lingkungan sekolah, ciri fisik yang mudah terlihat dapat menjadi bahan ejekan, pengucilan, hingga kekerasan. Situasi seperti ini perlu menjadi perhatian karena komentar yang awalnya dianggap candaan bisa berubah menjadi tindakan berulang yang melukai rasa aman dan kepercayaan diri murid.
Perbedaan fisik seharusnya tidak ditempatkan sebagai alasan untuk memberi label kepada anak. Sekolah, keluarga, dan teman sebaya memiliki peran dalam membangun kebiasaan berinteraksi yang menghormati setiap murid tanpa menjadikan bentuk tubuh atau penampilan sebagai bahan merendahkan orang lain.
Kemampuan Akademik dan Kebutuhan Khusus
Kelompok berikutnya adalah murid yang pencapaian akademiknya berada di bawah rata-rata. Mu'ti mengaitkan kondisi ini dengan anak-anak berkebutuhan khusus, bersama dengan kelompok murid yang memiliki perbedaan fisik.
“Anak-anak yang berkebutuhan khusus.”
Penjelasan tersebut memperlihatkan pentingnya lingkungan belajar yang tidak hanya berfokus pada hasil nilai. Setiap anak memiliki ritme, kemampuan, dan kebutuhan pendampingan yang berbeda. Ketika seorang murid kesulitan mengikuti pelajaran, respons yang dibutuhkan adalah dukungan, bukan tekanan sosial atau perlakuan yang mempermalukan.
Perundungan terhadap anak yang mengalami kesulitan akademik dapat muncul melalui ejekan, pengucilan dalam kerja kelompok, atau anggapan bahwa mereka tidak mampu berkontribusi. Karena itu, perhatian terhadap interaksi sehari-hari di kelas sama pentingnya dengan pemantauan terhadap capaian belajar.
Latar Belakang Ekonomi Menjadi Kerentanan Lain
Mu'ti juga menyoroti kondisi sosial ekonomi keluarga sebagai salah satu faktor yang dapat membuat murid lebih rentan menjadi korban. Anak dari keluarga tidak mampu disebut berpotensi mengalami perundungan karena perbedaan kondisi yang tampak dalam kehidupan sekolah.
“Sangat rentan terhadap perundungan.”
Ia menyinggung kasus terakhir di Pemalang yang korbannya berasal dari keluarga desil 1. Penyebutan kasus itu menjadi pengingat bahwa kesenjangan sosial dapat terbawa ke ruang pendidikan apabila tidak dihadapi dengan empati dan perlindungan yang memadai.
Di sekolah, perbedaan ekonomi dapat terlihat dari perlengkapan belajar, biaya kegiatan, pilihan makanan, atau hal lain yang seharusnya tidak dijadikan ukuran nilai seseorang. Murid perlu memahami bahwa kondisi keluarga bukan dasar untuk memperlakukan teman secara tidak adil.
Perilaku yang Dianggap Berbeda
Selain faktor fisik, akademik, dan ekonomi, Mu'ti menyebut anak yang memiliki perilaku berbeda juga cenderung menjadi sasaran. Contohnya, murid yang sering mengadu kepada guru ketika menghadapi persoalan dengan teman.
Ia juga menyinggung murid yang ekspresi perilakunya dipersepsikan tidak sesuai dengan harapan sosial terhadap jenis kelamin mereka. Anak laki-laki yang dianggap feminin atau anak perempuan yang dianggap maskulin dapat menjadi target perundungan.
Situasi ini menunjukkan bahwa perundungan dapat tumbuh dari sikap tidak menerima perbedaan. Anak yang memilih mencari bantuan guru saat menghadapi masalah tidak seharusnya diburu atau dijauhi. Demikian pula, ekspresi perilaku seseorang tidak boleh menjadi pembenaran untuk melakukan intimidasi.
Perempuan Paling Banyak Mengalami Perundungan
Mu'ti menyatakan bahwa perempuan merupakan kelompok yang paling banyak mengalami perundungan. Pernyataan ini memperkuat kebutuhan untuk menciptakan ruang sekolah yang aman bagi seluruh murid, terutama mereka yang kerap menghadapi perlakuan merendahkan karena identitas, penampilan, kondisi sosial, atau perilaku yang dianggap berbeda.
Pencegahan perlu dimulai dengan kemampuan mengenali tanda-tanda perundungan. Perubahan perilaku, keengganan berangkat ke sekolah, rasa takut berinteraksi, atau pengucilan dari kelompok pertemanan patut mendapat perhatian. Murid juga membutuhkan keyakinan bahwa meminta pertolongan kepada orang dewasa adalah langkah yang tepat ketika menghadapi kekerasan.
Relasi Kuasa dalam Kekerasan terhadap Anak
Untuk perilaku kekerasan terhadap anak, Mu'ti menyebut tiga pihak yang paling sering terlibat, yakni guru, kakak kelas atau senior, serta lawan jenis. Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa kekerasan tidak selalu dilakukan oleh teman seangkatan.
“Relasi kuasa dari yang kuat kepada yang lemah.”
Relasi kuasa dapat muncul karena usia, posisi, popularitas, kekuatan fisik, atau pengaruh dalam kelompok. Ketika ketimpangan seperti itu dibiarkan, murid yang menjadi sasaran bisa merasa tidak memiliki ruang untuk membela diri atau melapor.
Perlindungan anak di sekolah membutuhkan sikap tegas terhadap segala bentuk kekerasan dan perundungan. Perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk merendahkan siapa pun. Lingkungan pendidikan yang sehat harus memberi setiap murid kesempatan belajar, bergaul, dan berkembang tanpa rasa takut.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Mendikdasmen?Mendikdasmen is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Mendikdasmen matter?Mendikdasmen matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.