Latest Program: Komisi X DPR Soroti Fenomena SDN Sepi Peminat: Ada Kesenjangan Mutu
Latest Program: Komisi X DPR RI Soroti Kesenjangan Mutu di SDN Sepi Peminat
Latest Program - Komisi X DPR RI semakin mengemukakan kekhawatiran terhadap fenomena SDN (Sekolah Dasar Negeri) yang kian sepi peminat. Ketua Komisi X, Hetifah Sjaifudian, menegaskan bahwa ketimpangan mutu pendidikan menjadi isu utama yang perlu segera diatasi. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran minat masyarakat terhadap sekolah-sekolah negeri, terutama di daerah-daerah dengan jumlah peserta didik yang menurun.
Perubahan Demografi dan Kualitas Pendidikan yang Tidak Merata
Menurut Hetifah, perubahan demografi dan ketimpangan kualitas pendidikan menjadi penyebab utama dari fenomena sepi peminat tersebut. Ia menjelaskan bahwa masyarakat kini lebih memilih sekolah yang menawarkan fasilitas, kurikulum, serta prestasi yang lebih menjanjikan. "Program-program pendidikan yang inovatif dan kurikulum yang lebih menarik membuat sekolah swasta menjadi pilihan utama," tambahnya.
"Kami menyoroti bahwa sejumlah SDN hanya menerima satu hingga beberapa siswa baru. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan mutu pendidikan yang signifikan," ujar Hetifah kepada media, Jumat (17/7/2026).
Ketua Komisi X juga mengungkapkan bahwa masalah ini tidak hanya terjadi di satu wilayah. Ia menyebut bahwa berbagai daerah, baik perkotaan maupun pedesaan, mengalami pergeseran minat peserta didik. "Tidak semua SDN mengalami penurunan jumlah murid, tetapi beberapa sekolah menjadi pusat peminat sementara yang lain terabaikan," jelasnya.
Contoh SDN Sepi Peminat di Daerah Tertentu
Pada tahun ajaran baru 2026/2027, sejumlah SDN di Jawa Tengah terlihat mengalami penurunan peserta didik. Salah satu contohnya adalah SDN Purwoyoso 01, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Menurut Kepala Sekolah, Hajar Riatiani, hanya tiga siswa yang mendaftar. "Yang mendaftar online ada lima, tapi dua tidak mengikuti pendaftaran ulang, sehingga yang diterima hanya tiga," kata Hajar, seperti dilansir detikJateng, Senin (13/7).
"Kita tetap sambut dengan semangat, meski jumlah murid terbatas. MPLS tahun ini dilaksanakan dengan tema sirkus, lengkap dengan maskot badut yang hadir," tegas Hajar, yang menekankan upaya sekolah dalam menarik minat siswa.
Dalam wilayah lain, seperti Boyolali, SDN 2 Cepokosawit, Kecamatan Sawit, juga mengalami kondisi serupa. Hanya satu siswa yang mendaftar, meski guru tetap berupaya memberikan layanan pendidikan terbaik. "Meski hanya satu murid, kita harus tetap optimis dan berikan yang terbaik," ujar guru kelas SDN 2 Cepokosawit, Andiyani Mudrikah, saat ditemui di sekolah tersebut.
"Masalah sepi peminat ini tidak hanya menyangkut kurikulum, tetapi juga akses ke fasilitas sekolah dan ketersediaan tenaga pengajar yang memadai," katanya.
Solusi untuk Pemerataan Kualitas Pendidikan
Menurut Hetifah, penyelesaian masalah sepi peminat di SDN tidak hanya bergantung pada kebijakan penerimaan murid, tetapi juga perlu dilakukan penguatan kualitas pendidikan secara merata. "Pemerintah harus mempercepat pemerataan infrastruktur sekolah dan program terbaru untuk menarik minat peserta didik," tegasnya.
"Selain itu, perencanaan berdasarkan data demografi dan proyeksi populasi usia sekolah sangat penting. Ini bisa membantu mengidentifikasi daerah yang butuh perhatian khusus," jelas Hetifah.
Komisi X DPR RI juga menyarankan adanya inisiatif program terbaru yang dapat meningkatkan daya tarik SDN, seperti pengembangan kurikulum berbasis teknologi atau program kerja sama dengan komunitas lokal. "Sekolah negeri harus tetap menjadi pilihan utama, bukan hanya karena biaya murah, tetapi juga karena kualitas pendidikan yang konsisten," katanya.
"Kami berharap pemerintah bisa menyesuaikan program terbaru dengan kebutuhan masyarakat, agar SDN tidak terabaikan dan keadilan pendidikan tetap terjaga," pungkas Hetifah.