Wahanaberita
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Hari Keempat, Kebakaran di TPA Liar Waringinkurung Masih Belum Padam

Published Agustus 31, 2026 · Updated Agustus 31, 2026 · By Mary Anderson - wahanaberita.com

Foto : Mary Anderson - wahanaberita.com

Api di Bawah Tumpukan Sampah: Empat Hari Kebakaran TPA Liar Waringinkurung Belum Berakhir

Wahanaberita.com – Sejak Jumat malam, 28 Agustus 2026, kobaran api yang melahap tumpukan sampah di lokasi pembuangan akhir liar kawasan Waringinkurung, Kabupaten Serang, Banten, belum juga berhasil dipadamkan. Memasuki hari keempat pada Senin (31/8/2026), petugas pemadam kebakaran masih berjibaku melawan bara yang tersimpan di kedalaman material organik. Kapolsek Waringinkurung, Iptu Hari Purwanto, memperkirakan proses pemadaman penuh membutuhkan waktu satu hingga dua hari ke depan.

"Masih dalam proses, kemungkinan satu sampai dua hari baru selesai," ujar Iptu Hari Purwanto, Senin (31/8/2026).

Alat Berat Turun, Asap Mulai Menipis

Perubahan signifikan mulai terlihat setelah ekskavator dikerahkan ke lokasi sejak Minggu (30/8). Alat berat tersebut berfungsi mengurai dan membuka lapisan tumpukan sampah yang menjadi sarang api tersembunyi. Dengan tumpukan yang telah dibuka, tim pemadam kini dapat menyemprotkan air tepat pada titik bara yang sebelumnya tak terjangkau.

"Asap sudah mulai berkurang, hanya tinggal beberapa titik saja. Karena alat berat sudah mulai bekerja dari kemarin," kata Hari.

Secara teknis, kebakaran di tumpukan sampah memiliki karakteristik tersendiri. Api tidak membakar di permukaan melainkan menyala di kedalaman material, di antara lapisan-lapisan sampah yang telah membusuk dan menghasilkan gas metana. Kondisi ini membuat pemadaman konvensional dengan selang air dari atas menjadi tidak efektif. Tanpa intervensi mekanis untuk membuka tumpukan, bara di bawah akan terus menyala dan menghasilkan asap tebal berhari-hari.

"Kalau untuk kondisi terkini saat ini, kalau untuk api yang sifatnya besar itu dipastikan tidak ada. Hanya asap yang belum habis, karena api itu ada di bawah permukaan sampahnya, di bawah tumpukan, jadi sulit dipadamkan," kata Iptu Hari Purwanto saat dihubungi Minggu (30/8).

Empat Mobil Damkar dan Satu Ekskavator di Lokasi

Penanganan kebakaran ini melibatkan empat unit mobil pemadam kebakaran serta satu unit ekskavator. Koordinasi antara aparat keamanan setempat dan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) menjadi kunci operasional. Iptu Hari menjelaskan bahwa keputusan pengerahan alat berat diambil setelah musyawarah dengan Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan).

"Untuk upaya penanganan, kami sudah koordinasi dengan Muspika bahwasanya kita butuh alat berat, dan alhamdulillah alat berat hari ini sudah turun. Hari ini sudah diturunkan satu ekskavator dan dari pihak ekskavator sudah koordinasi dengan damkar," imbuhnya.

Hari menambahkan bahwa pihaknya masih berupaya menambah jumlah alat berat agar proses pemadaman dapat dipercepat. Untuk langkah teknis selanjutnya, seluruh operasi pemadaman mengikuti arahan langsung dari tim Damkar.

"Jadi alat berat fungsinya mengurai atau membuka tumpukan sampah, sehingga nanti damkar bisa memadamkan api tepat di titik api tersebut, gitu. Jadi untuk teknisnya nanti kita menunggu arahan dari Damkar," kata Hari.

Warga Sekitar Tidak Dievakuasi

Kabar baik datang dari sisi kemanusiaan. Tidak ada satu pun warga di sekitar lokasi TPA liar Waringinkurung yang harus dievakuasi. Iptu Hari menegaskan bahwa koordinasi dengan puskesmas setempat menunjukkan tidak ada pasien yang datang berobat akibat paparan asap kebakaran.

"Alhamdulillah warga tidak ada masalah. Dan tidak ada yang dievakuasi. Kami sudah koordinasi dengan puskesmas juga tidak ada pasien yang berobat gara-gara asap," ujar Hari.

Kondisi ini tentu patut disyukuri, mengingat kebakaran tumpukan sampah dapat menghasilkan gas-gas beracun seperti karbon monoksida, hidrogen sulfida, dan senyawa organik volatil yang berbahaya bagi pernapasan manusia dalam konsentrasi tinggi. Namun, ketiadaan korban tidak berarti risiko lingkungan telah hilang. Asap yang masih mengepul tetap menjadi pengingat bahwa proses dekomposisi termal sampah masih berlangsung.

Latar Belakang: Mengapa TPA Liar Menjadi Titik Rawan Kebakaran

TPA liar, atau tempat pembuangan akhir yang tidak memiliki izin resmi dan tidak dikelola sesuai standar teknis, tersebar di berbagai wilayah Banten termasuk Kabupaten Serang. Tanpa sistem pengelolaan yang benar—seperti pemadatan sampah, penutupan harian dengan tanah penutup, serta sistem drainase dan gas—tumpukan sampah menjadi bahan bakar alami. Proses dekomposisi anaerobik di dalam tumpukan menghasilkan panas dan gas metana. Ketika suhu internal mencapai titik nyala, kebakaran spontan dapat terjadi, terutama pada musim kemarau ketika kelembapan rendah mempercepat oksidasi.

Kebakaran di Waringinkurung yang bermula sekitar pukul 18.00 WIB pada Jumat (28/8/2026) malam menjadi contoh nyata dari risiko tersebut. Selama empat hari, api terus menyala di kedalaman tumpukan, menghasilkan asap yang menyelimuti area sekitar. Tanpa intervensi alat berat, pemadaman dari permukaan saja tidak akan mampu menjangkau bara yang tersembunyi di bawah lapisan-lapisan sampah.

Kejadian ini juga menyoroti urgensi penataan ulang sistem pengelolaan sampah di tingkat kabupaten. Selama TPA liar masih beroperasi tanpa pengawasan teknis, potensi kebakaran berulang akan terus mengintai setiap musim kemarau. Bagi warga Waringinkurung dan sekitarnya, empat hari terakhir bukan sekadar berita kebakaran—melainkan pengingat bahwa pengelolaan sampah yang tertunda akan selalu kembali menuntut harga, baik dalam bentuk asap, kerugian ekonomi, maupun risiko kesehatan jangka panjang.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Hari Keempat Kebakaran di TPA Liar?

Hari Keempat Kebakaran di TPA Liar is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Hari Keempat Kebakaran di TPA Liar matter?

Hari Keempat Kebakaran di TPA Liar matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.