Wahanaberita
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Gerobak Sampah Mangkal di Trotoar Tendean, DLH DKI Buka Suara

Published September 1, 2026 · Updated September 1, 2026 · By Karen Williams - wahanaberita.com

Foto : Karen Williams - wahanaberita.com

Gerobak Sampah Menumpuk di Trotoar Tendean, Warga Keluhkan Gangguan Lalu Lintas

Wahanaberita.com – Area Jalan Kapten Tendean, yang sejak lama dikenal sebagai salah satu koridor paling padat di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, kembali menjadi sorotan setelah sejumlah gerobak sampah terlihat berjejer di sisi jalan pada Senin (31/8/2026) malam. Kendaraan-kendaraan pengangkut sampah itu memenuhi sebagian trotoar hingga merembes ke badan jalan, menciptakan hambatan bagi pejalan kaki dan menambah kemacetan di ruas yang memang sudah sibuk sepanjang hari.

Kondisi tersebut memicu keluhan dari pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut. Jalan Kapten Tendean sendiri merupakan jalur strategis yang menghubungkan berbagai kawasan komersial, perkantoran, dan permukiman di sisi selatan ibu kota. Kepadatan lalu lintas di ruas ini kerap mencapai puncaknya pada sore hingga malam hari, sehingga keberadaan gerobak yang menumpuk di pinggir jalan dinilai memperparah situasi.

Penjelasan Resmi dari Dinas Lingkungan Hidup

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta merespons keluhan tersebut melalui juru bicaranya, Yogi Ikhwan. Ia menjelaskan bahwa lokasi di Jalan Kapten Tendean memang telah ditetapkan sebagai titik transit sementara bagi gerobak sampah dalam rangkaian pengangkutan malam. Pada tahap ini, sampah yang telah dikumpulkan dari berbagai titik di sekitar kawasan ditampung terlebih dahulu di gerobak sebelum dipindahkan ke armada Compactor yang datang pada jadwal tertentu.

"Lokasi tersebut memang digunakan sebagai titik transit gerobak pada kegiatan pengangkutan sampah malam hari, sebelum sampah dipindahkan ke armada Compactor," kata Yogi saat dihubungi, Senin (31/8/2026).

Yogi mengakui bahwa penempatan gerobak di area yang masih dilalui kendaraan dan pejalan kaki berpotensi menimbulkan gangguan. Ia menyatakan bahwa pihak DLH memahami keresahan warga dan pengguna jalan yang terdampak langsung oleh keberadaan tumpukan sampah di trotoar.

"Namun kami memahami bahwa keberadaan gerobak pada saat arus lalu lintas masih padat dapat mengganggu pengguna jalan dan pedestrian," ujarnya.

Penyesuaian Waktu Operasional

Sebagai langkah korektif, Yogi mengungkapkan bahwa petugas lapangan telah diinstruksikan untuk mengubah pola waktu keluar dan berkumpulnya gerobak. Alih-alih beroperasi saat lalu lintas masih padat, gerobak kini diminta menunggu hingga kondisi jalan lebih lengang sebelum mulai menumpuk di titik transit. Proses pemindahan muatan dari gerobak ke armada Compactor juga diperintahkan untuk dilakukan secepat mungkin guna meminimalkan durasi penumpukan.

"Kami sudah meminta petugas agar waktu keluarnya gerobak disesuaikan ketika kondisi jalan sudah lebih lengang, serta proses pemindahan sampah dilakukan secepat mungkin agar tidak terjadi penumpukan terlalu lama di lokasi," jelasnya.

Armada Compactor sendiri dijadwalkan tiba di titik transit pada rentang pukul 23.00 hingga 01.00 WIB. Dengan penyesuaian jadwal tersebut, Yogi menegaskan bahwa waktu tunggu gerobak di pinggir jalan dapat dipersingkat secara signifikan, sehingga dampak terhadap arus lalu lintas dan akses trotoar berkurang.

"Petugas gerobak swadaya juga sudah diarahkan agar baru keluar dan berkumpul setelah kondisi jalan lebih lengang, sehingga waktu tunggu dapat dipersingkat dan keberadaan gerobak tidak terlalu lama mengganggu arus lalu lintas maupun pengguna trotoar," pungkasnya.

Evaluasi Lanjutan dan Implikasi bagi Warga

Di luar penyesuaian jadwal malam itu, Yogi menambahkan bahwa DLH DKI akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengaturan operasional di titik transit Jalan Kapten Tendean. Tujuannya memastikan bahwa layanan pengangkutan sampah tetap berjalan efektif tanpa mengorbankan fungsi trotoar, kelancaran lalu lintas, maupun kenyamanan masyarakat sekitar.

"Kami juga akan melakukan evaluasi terhadap pengaturan operasional di titik tersebut agar pelayanan pengangkutan sampah tetap berjalan, tetapi tidak mengurangi fungsi trotoar, mengganggu lalu lintas, maupun kenyamanan masyarakat," lanjutnya.

Isu ini sesungguhnya bukan kasus tunggal di Jakarta. Sistem pengelolaan sampah ibu kota yang melibatkan gerobak swadaya, armada Compactor, dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) menuntut koordinasi ketat antar-tahap logistik. Titik transit seperti di Tendean menjadi simpul krusial di mana sampah dari ratusan rumah tangga dan komersial dikonsolidasikan sebelum dikirim ke fasilitas pengolahan. Ketika jadwal antar-tahap tidak sinkron, efeknya langsung terasa di permukaan jalan: gerobak menumpuk, trotoar tersumbat, dan warga terpaksa berjalan di badan jalan yang berbahaya.

Bagi pejalan kaki di kawasan Tendean, trotoar bukan sekadar fasilitas tambahan melainkan jalur utama untuk mengakses halte, pusat perbelanjaan, dan permukiman. Penumpukan gerobak yang menutupi jalur tersebut memaksa warga berjalan di area kendaraan, meningkatkan risiko kecelakaan. Oleh karena itu, komitmen DLH untuk mengevaluasi ulang pengaturan operasional di titik tersebut menjadi langkah yang ditunggu-tunggu warga agar keseimbangan antara layanan kebersihan dan keselamatan publik dapat terjaga secara berkelanjutan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Gerobak Sampah Mangkal di Trotoar Tendean?

Gerobak Sampah Mangkal di Trotoar Tendean is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Gerobak Sampah Mangkal di Trotoar Tendean matter?

Gerobak Sampah Mangkal di Trotoar Tendean matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.