Gerindra: 2 Tahun Prabowo, Kemandirian Nasional-Kesejahteraan Tetap Stabil
Gerindra Soroti Stabilitas Ekonomi dan Program Prioritas Pemerintahan Prabowo-Gibran
Wahanaberita.com – Memasuki dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Partai Gerindra menilai sejumlah indikator menunjukkan penguatan stabilitas ekonomi, ketahanan pangan, serta perluasan layanan sosial. Namun, capaian tersebut dinilai tetap perlu diiringi pembenahan agar manfaat pembangunan menjangkau masyarakat secara lebih merata.
Juru bicara Gerindra, Sugiat Santoso, menyebut kondisi ekonomi nasional tetap terjaga meski dunia menghadapi ketidakpastian. Ia melihat penguatan produksi pangan, akses pendidikan dan kesehatan, serta kebijakan hilirisasi sebagai bagian dari arah pembangunan yang menekankan kemandirian nasional.
"Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menunjukkan kemajuan dalam memperkuat kemandirian nasional dan kesejahteraan rakyat. Hal ini terlihat dari fundamental ekonomi yang tetap stabil di tengah gejolak global, penguatan produksi pangan, perluasan akses pendidikan dan kesehatan, serta percepatan hilirisasi," kata Sugiat Santoso dalam keterangannya, Senin (19/10/2026).
Pertumbuhan Ekonomi dan Penurunan Kemiskinan
Wakil Ketua Komisi XIII DPR itu menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,29% secara tahunan pada triwulan II-2026. Angka tersebut dipandang sebagai salah satu modal bagi pemerintah dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi internasional.
Di sisi kesejahteraan, tingkat kemiskinan nasional tercatat turun dari 8,25% pada September 2025 menjadi 8,07% pada Maret 2026. Jumlah penduduk miskin dalam periode tersebut berkurang sekitar 430 ribu orang. Bagi Gerindra, perkembangan ini layak mendapat perhatian positif, tetapi belum menjadi alasan untuk mengendurkan evaluasi kebijakan.
"Capaian ini patut diapresiasi, tetapi tantangan yang masih ada juga harus diakui. Evaluasi dan perbaikan perlu difokuskan pada pemerataan manfaat, ketepatan sasaran, kualitas pelaksanaan program, serta efektivitas belanja negara," ujarnya.
Sugiat menekankan bahwa ukuran keberhasilan program pemerintah tidak hanya terletak pada besarnya anggaran atau luasnya pelaksanaan. Dampak yang benar-benar dirasakan keluarga, pekerja, petani, pelajar, dan kelompok rentan perlu menjadi perhatian utama dalam penyempurnaan kebijakan.
Agenda Pangan dan Dukungan bagi Petani
Penguatan pangan menjadi bagian penting dalam gagasan kemandirian nasional yang disoroti Gerindra. Pemerintah mencatat pencapaian swasembada pada delapan komoditas strategis, meliputi beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Selain produksi, pemerintah juga menyederhanakan 145 aturan terkait penyaluran pupuk. Harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi telah diturunkan 20% sejak Oktober 2025. Sementara itu, nilai tukar petani pada September 2026 mencapai 131,11, naik 1,49% dibandingkan bulan sebelumnya.
Angka-angka tersebut menggambarkan pentingnya dukungan yang tidak berhenti di tingkat produksi. Kelancaran distribusi, kecukupan pupuk, dan kesiapan menghadapi gangguan pasokan akan menentukan apakah hasil penguatan pangan dapat menekan gejolak harga di berbagai wilayah.
"Kemandirian pangan harus diikuti dengan stabilitas harga yang bisa dirasakan masyarakat di seluruh daerah. Distribusi pangan, ketersediaan pupuk, dan antisipasi gangguan pasokan juga harus terus diperkuat," kata Sugiat.
Layanan Kesehatan, Pendidikan, dan Program Sosial
Dalam bidang kesehatan, program cek kesehatan gratis disebut telah menjangkau 99,1 juta orang. Di saat yang sama, program makan bergizi gratis atau MBG telah mencakup sekitar 57 juta penerima manfaat hingga Agustus 2026.
Program sekolah rakyat juga telah berjalan di 182 lokasi dengan jumlah peserta didik sekitar 44 ribu orang. Perluasan akses ini dipandang penting, terutama karena layanan pendidikan dan kesehatan memiliki pengaruh langsung terhadap kualitas hidup dalam jangka panjang.
Meski demikian, Sugiat mengingatkan bahwa cakupan penerima manfaat bukan satu-satunya ukuran. Pengawasan terhadap penyaluran bantuan, keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG, serta mutu layanan yang diterima masyarakat harus terus ditingkatkan. Program sosial perlu memastikan kelompok yang paling membutuhkan benar-benar menjadi pihak yang memperoleh manfaat.
"Keberhasilan program prioritas tidak cukup diukur dari banyaknya penerima manfaat. Yang tidak kalah penting adalah kualitas layanan, ketepatan sasaran, dan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Hilirisasi dan Pengelolaan Aset Negara
Pemerintah juga menjalankan agenda hilirisasi melalui Danantara. Sebanyak 26 proyek strategis dengan nilai Rp225 triliun tercatat memiliki proyeksi penyerapan 37.833 tenaga kerja. Dari sisi penataan kawasan, pemerintah menyatakan telah menguasai kembali 6,22 juta hektare kawasan hutan hingga 6 Oktober 2026 melalui Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan.
Sugiat menilai kebijakan industri dan penataan aset negara harus menghasilkan dampak ekonomi yang dapat diukur. Realisasi investasi, pembukaan lapangan kerja, pertambahan penerimaan negara, dan manfaat bagi daerah penghasil menjadi unsur penting dalam menilai hasil kebijakan tersebut.
"Pengelolaan sumber daya alam dan aset negara harus dilakukan secara transparan dan akuntabel. Hilirisasi juga harus memberikan nilai tambah di dalam negeri, membuka lapangan kerja, serta memperhatikan keberlanjutan lingkungan," katanya.
Gerindra menyatakan apresiasi terhadap hasil pemerintahan Prabowo-Gibran selama dua tahun pertama, sembari mendorong penyempurnaan bagi program yang belum berjalan optimal. Pemerataan kesejahteraan, penggunaan anggaran yang efektif, kualitas pelaksanaan, serta dampak kebijakan terhadap kehidupan masyarakat menjadi titik perhatian dalam menjaga keberlanjutan agenda prioritas pemerintah.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Gerindra?Gerindra is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Gerindra matter?Gerindra matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.