Wahanaberita
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Facing Challenges: Pria Asal Madiun Diduga Kabur Saat Ikut Tur di Korsel, Begini Kronologinya

Published Juli 18, 2026 · Updated Juli 18, 2026 · By Jennifer Jackson

Menjalan-jalan di Korea Selatan: Pria Madiun Diduga Kabur Saat Ikut Tur, Ini Kronologinya

Facing Challenges - Menjalan-jalan di Korea Selatan bisa menjadi pengalaman penuh tantangan, terutama saat peserta tur memutuskan untuk mengambil risiko sendiri. Seorang pria asal Madiun, Femas, disebut diduga menghilang selama mengikuti tur yang berangkat dari Jakarta pada 27 Juni 2026. Dalam tur ini, peserta diberikan waktu bebas pada malam pertama, 28 Juni 2026, setelah selesai menjalani aktivitas hariannya. Menjelang malam, beberapa peserta, termasuk Femas, mengunjungi area Myeongdong, yang merupakan salah satu tempat paling populer di Seoul.

Kronologi Terperangkap: Saat Tantangan Muncul di Kota Seoul

Femas, yang berusia 22 tahun, awalnya dinyatakan tinggal bersama tour leader (TL) dalam satu kamar. Namun, saat TL kembali ke hotel setelah menemani peserta tur ke Myeongdong, ia mengirim pesan WhatsApp untuk mendorong Femas masuk. Pesan tersebut disampaikan karena pintu kamar sengaja diganjal agar Femas bisa terus berada di sekitar tempat. Tapi, hingga pagi hari, tidak ada respons dari Femas.

"Tidak ada respons hingga pagi hari. Pesan WhatsApp terkadang hanya satu centang, kadang dua, tetapi tidak pernah dijawab," kata Wiky, Marketing Manager dari agensi tur tersebut.

Tantangan ini semakin membesar saat pihak agensi travel mulai khawatir. Meski awalnya mempercayai Femas mungkin tersesat atau menghadapi kendala, mereka tetap berupaya mencari ke area terakhir tempat ia berpamitan. Dalam beberapa hari, tim lokal terus menghubungi Femas, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Akhirnya, pada hari keempat, tim tersebut membuat laporan ke polisi Korea Selatan. Namun, laporan ditolak karena tidak ada indikasi tindak pidana.

Menurut Wiky, Femas dinyatakan menghilang secara sadar, bukan karena hilang. Tapi, mengapa ia memilih kabur? Femas mengatakan ingin mencari sepatu sebelum melanjutkan perjalanan ke hari berikutnya. Menurut laporan, ia sempat berpamitan dengan TL dan tim sebelum memutuskan untuk meninggalkan rombongan. Pilihan ini tentu saja menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pribadi dan keberadaannya di luar rencana tur.

Selama perjalanan tur, peserta lain tetap berada di bawah pengawasan TL. Namun, Femas berjalan sendirian ke Myeongdong, sebuah kawasan penuh dengan toko-toko dan tempat hiburan. Sebagian besar peserta tur mengikuti rencana yang telah disusun, tetapi Femas memutuskan untuk mengambil risiko lebih besar. Ini menjadi salah satu contoh tantangan yang muncul selama perjalanan di Korea Selatan.

Menjelang hari keempat, laporan ke polisi dibuat sebagai langkah preventif. Meski tidak ada bukti tindak pidana, pihak kepolisian tetap mengecek kemungkinan Femas terlibat dalam kecelakaan atau situasi kritis. Setelah beberapa hari pencarian, Femas akhirnya ditemukan di sebuah tempat parkir dekat Myeongdong. Menurut sumber, ia kembali ke rombongan setelah berpikir lebih jauh tentang keputusannya.

Peristiwa ini menjadi bahan perdebatan di antara peserta tur dan masyarakat. Beberapa menganggap Femas berani mengambil langkah pribadi, sementara lainnya menilai ia menimbulkan kekhawatiran. Meski tidak ada kecelakaan besar, tantangan dalam menjaga keselamatan peserta tur di luar rencana menjadi pembelajaran penting. Dalam hal ini, Femas dianggap memutuskan sendiri untuk menghadapi risiko yang mungkin tidak terduga.