Wahanaberita
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Densus 88 Ajak Guru-Siswa Bedah Film Jihad Selfie, Cegah Paham Radikalisme

Published Agustus 20, 2026 · Updated Agustus 20, 2026 · By Betty Taylor - wahanaberita.com

Foto : Betty Taylor - wahanaberita.com

Densus 88 Gelar Bedah Film 'Jihad Selfie' Bersama 200 Peserta dari Dunia Pendidikan Jakarta

Wahanaberita.com – Sebagai bagian dari strategi pencegahan paham radikal di kalangan remaja, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri bekerja sama dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta serta Kanwil Kemenag DKI Jakarta menyelenggarakan kegiatan bedah film bertajuk 'Jihad Selfie'. Acara tersebut diikuti sekitar 200 orang yang mencakup Ketua OSIS, tenaga pendidik, anggota komite sekolah, hingga orang tua siswa SMA/MA di seluruh Provinsi DKI Jakarta.

Selain membahas isi film, sesi diskusi interaktif juga menyoroti ancaman perundungan (bullying) serta penyebaran propaganda melalui platform media sosial.

Narasi Ekstrem yang Menyusup ke Dunia Digital

Kompol Agus Isnaini, perwakilan Densus 88, menguraikan bahwa wacana ekstrem kini telah merambah ruang digital remaja. Bahkan, konten bernuansa kebencian dapat masuk melalui aktivitas yang tampak biasa seperti bermain game online.

"Anak diperkenalkan pada konten atau figur bernuansa keluhan, ketidakadilan, atau kebencian-sering lewat game online, forum, atau media sosial," kata Agus.

Peran Keluarga, Sekolah, dan Pemahaman Agama Moderat

Kombes Moh Dofir, Kasubdit Kontra Ideologi Ditcegah Densus 88 AT Polri yang hadir mewakili Direktur Pencegahan, menegaskan bahwa lingkungan keluarga dan institusi pendidikan memegang peranan sentral dalam melindungi masa depan generasi muda.

"Keluarga dan sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan rasa aman, perhatian, ruang dialog, serta lingkungan yang nyaman dan bebas dari bullying," kata Dofir melalui keterangannya, Rabu (19/8/2026).

Pandangan serupa disampaikan Adib, Kakanwil Kemenag DKI Jakarta. Ia mendorong agar pemahaman agama yang moderat terus diperkuat di ruang-ruang pendidikan, dengan prinsip bahwa ajaran agama harus selaras dengan nilai kebangsaan.

"Di Kanwil Kementerian Agama tentu mendorong untuk terus terbangunnya pemahaman beragama yang moderat, pemahaman beragama yang sejalan dengan prinsip-prinsip kebangsaan, pemahaman dan pengamalan ajaran agama yang menjunjung tinggi keragaman, perbedaan dan menolak bentuk kekerasan apa pun," ucap Adib.

Membangun Karakter yang Tangguh terhadap Provokasi

Ali Mukodas, Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan DKI Jakarta, memandang bahwa upaya pencegahan terorisme sesungguhnya merupakan investasi jangka panjang dalam pembentukan karakter. Tujuannya agar siswa tidak mudah terpecah oleh perbedaan maupun terhasut oleh sentimen kebencian.

"Pencegahan terorisme pada akhirnya bukan hanya tentang mencegah sebuah tindakan kekerasan, melainkan kita sedang membangun generasi yang tidak mudah dipecah oleh perbedaan dan tidak mudah dihasut oleh kebencian," ujar Ali.

Deteksi Dini dan Pendekatan Sistemik

Ruspita Putri Utami, Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen RI, menyerukan agar sekolah membuka diri secara lebih luas dan inklusif. Ia menekankan bahwa kemampuan mendeteksi gejala awal menjadi kunci utama.

"Jangan lagi ada eksklusivisme di sekolah. Harus inklusif, benar-benar inklusif, dan yang cukup paling penting adalah kemampuan sekolah melakukan deteksi dini," ujar Ruspita.

Ignatius Setiawan Cahyo Nugroho, Spesialis Perlindungan Anak UNICEF Indonesia, menambahkan bahwa persoalan radikalisme serta eksploitasi anak tidak dapat diatasi dengan jawaban parsial. Diperlukan pendekatan komprehensif yang menangani akar masalah hingga dampaknya.

"Kita sering memberikan jawaban tidak sistemik, sedangkan masalahnya sistemik. Agar kita bisa berpikir sistemik maka kita perlu berpikir secara komprehensif," ucap Ignatius.

Dengan kombinasi deteksi dini, lingkungan sekolah yang inklusif, serta kepekaan orang tua terhadap pola komunikasi anak, kegiatan bedah film ini diharapkan menjadi momentum bagi sekolah-sekolah di Jakarta untuk menjadi ruang yang aman dari pengaruh ideologi ekstrem.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Densus 88 Ajak Guru Siswa Bedah?

Densus 88 Ajak Guru Siswa Bedah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Densus 88 Ajak Guru Siswa Bedah matter?

Densus 88 Ajak Guru Siswa Bedah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.