Wahanaberita
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Badan Geologi Catat 4 Kali Aktivitas Gempa di Anak Krakatau hingga Siang Tadi

Published September 11, 2026 · Updated September 11, 2026 · By James Thomas - wahanaberita.com

Foto : James Thomas - wahanaberita.com

Badan Geologi Catat 4 Kali Gempa Anak Krakatau hingga Siang

Wahanaberita.com – Badan Geologi Catat 4 Kali aktivitas gempa di Gunung Anak Krakatau dalam periode pengamatan Jumat, 11 September 2026, hingga siang hari. Meski sejumlah kegempaan terdeteksi, status gunung api di Selat Sunda tersebut masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat dan pengunjung tetap diminta mematuhi rekomendasi keselamatan yang berlaku.

Pengamatan berlangsung dari pukul 06.00 hingga 12.00 WIB. Cuaca di sekitar gunung dilaporkan cerah hingga berawan, sementara angin bertiup sedang ke arah barat laut. Namun, kabut yang menyelimuti puncak menyebabkan asap dari kawah tidak dapat diamati secara visual.

“Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin sedang ke arah barat laut,” ujar Badan Geologi.

Empat Aktivitas Kegempaan di Anak Krakatau

Dalam laporan pemantauan tersebut, tercatat empat jenis aktivitas seismik. Kegempaan itu terdiri atas satu gempa Low Frequency, satu gempa Hybrid atau Fase Banyak, satu gempa Vulkanik Dalam, serta satu gempa Tremor Menerus. Setiap catatan gempa menjadi bagian penting dari pemantauan kondisi Gunung Anak Krakatau.

Gempa Low Frequency terjadi satu kali dengan amplitudo 34 milimeter dan lama gempa enam detik. Selain itu, petugas juga mencatat satu gempa Hybrid atau Fase Banyak dengan amplitudo berkisar 11 hingga 23 milimeter. Pada kejadian ini, nilai selisih waktu S-P tidak teramati, sedangkan durasinya berkisar delapan sampai 11 detik.

“Pengamatan kegempaan, satu kali gempa Low Frequency dengan amplitudo 34 mm, dan lama gempa 6 detik. Satu kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 11-23 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 8-11 detik,” kata Badan Geologi.

Aktivitas berikutnya berupa satu gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 41,3 milimeter. Gempa tersebut memiliki nilai S-P 0,8 detik dan berlangsung selama 13 detik. Sementara itu, tremor menerus juga terekam dengan amplitudo 1 hingga 8 milimeter dan amplitudo dominan 2 milimeter.

“Satu kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 41,3 mm, S-P 0,8 detik dan lama gempa 13 detik. Satu kali gempa Tremor Menerus dengan amplitudo 1-8 mm, dominan 2 mm,” ujarnya.

Status Siaga Anak Krakatau Masih Berlaku

Badan Geologi Catat 4 Kali kegempaan tersebut ketika status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga. Status ini menunjukkan bahwa aktivitas gunung api masih perlu mendapat perhatian serius dan pemantauan dilakukan secara berkelanjutan.

Warga, wisatawan, pendaki, serta pihak lain yang hendak beraktivitas di sekitar kawasan Anak Krakatau diminta tidak mendekati kawah aktif. Rekomendasi yang berlaku adalah tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

“Rekomendasi masyarakat, pengunjung, wisatawan, pendaki tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif,” katanya.

Pembatasan radius tersebut penting dipatuhi meskipun kondisi cuaca di area pengamatan tampak cerah hingga berawan. Cuaca yang terlihat baik tidak dapat menjadi patokan bahwa kawasan kawah aman didekati, terlebih asap kawah pada periode pengamatan ini tidak dapat terlihat akibat kabut.

Pengunjung yang berada di sekitar Selat Sunda juga perlu mempertimbangkan informasi resmi sebelum merencanakan perjalanan. Hal ini berlaku untuk kegiatan wisata, pelayaran, dokumentasi, maupun aktivitas lain yang berpotensi membawa orang lebih dekat ke zona rekomendasi bahaya.

Pentingnya Pemantauan Kegempaan Gunung Api

Data kegempaan membantu petugas memantau dinamika yang terjadi di bawah permukaan gunung api. Amplitudo, durasi, serta karakter setiap gempa dicatat untuk mendukung evaluasi aktivitas vulkanik, terutama ketika pemantauan visual dari puncak atau kawah terkendala kabut.

Catatan gempa Low Frequency, Hybrid/Fase Banyak, Vulkanik Dalam, dan tremor menerus memberikan gambaran mengenai aktivitas seismik yang terdeteksi selama periode pagi hingga siang. Data tersebut tidak berarti masyarakat perlu membuat kesimpulan sendiri mengenai perubahan kondisi gunung, melainkan menjadi dasar pemantauan oleh pihak berwenang.

Badan Geologi Catat 4 Kali aktivitas gempa sebagai bagian dari pengawasan rutin terhadap Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diharapkan tetap tenang, tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi, dan mengikuti arahan resmi mengenai batas aman di sekitar gunung api tersebut.

FAQ Aktivitas Gunung Anak Krakatau

Berapa radius aman dari kawah aktif Anak Krakatau?

Masyarakat, wisatawan, pengunjung, dan pendaki diminta tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau selama status Level III atau Siaga masih berlaku.

Apakah cuaca cerah berarti Anak Krakatau aman dikunjungi?

Tidak selalu. Dalam pengamatan hingga siang hari, cuaca dilaporkan cerah hingga berawan, tetapi asap kawah tidak dapat diamati karena puncak tertutup kabut. Pengunjung tetap perlu mematuhi radius aman yang direkomendasikan.

Jenis gempa apa saja yang tercatat?

Empat aktivitas yang tercatat meliputi satu gempa Low Frequency, satu gempa Hybrid/Fase Banyak, satu gempa Vulkanik Dalam, dan satu gempa Tremor Menerus.

Related Reading