Asa dari Semangkuk Bubur dan Nasi Kuning di Bahodopi
Peluang Usaha Tumbuh di Tengah Ramainya Bahodopi
Wahanaberita.com – Pagi di Bahodopi dimulai lebih cepat bagi Ruslan. Ketika malam masih menyisakan sunyi, pria berusia 40 tahun itu telah bekerja bersama istri dan ibu mertuanya untuk menyiapkan berbagai bumbu bubur ayam. Persiapan sejak dini hari itu menjadi bagian penting dari usaha yang kini dikenal banyak pekerja di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Sejak dirintis pada 2019 di Desa Keurea, Bubur Ayam Bandung Bintang 14 berkembang menjadi pilihan sarapan bagi banyak orang. Hidangan tersebut dijual Rp15.000 per porsi, harga yang membuatnya mudah dijangkau oleh pekerja maupun warga sekitar.
“Bubur ini kan ibaratnya diterima semua kalangan. Baik dari bayi, anak-anak, orang dewasa, maupun orang sakit yang sedang dalam masa pemulihan,” kata Ruslan, dalam keterangan tertulis, Senin (5/10/2026).
Ruslan membawa pengalaman memasak dari keluarganya. Resep yang diwariskan ayahnya menjadi modal saat ia memutuskan meninggalkan kampung halaman di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, untuk mencoba peruntungan di Bahodopi. Keputusan itu kemudian berkembang menjadi usaha yang mempekerjakan 10 karyawan dan memiliki enam cabang di sejumlah desa di Kecamatan Bahodopi.
Setiap hari, gerai bubur tersebut melayani pelanggan mulai pukul 07.00 hingga 12.00 WITA. Dari kegiatan usaha itu, Ruslan dapat mencatat omzet sampai Rp11 juta dalam sehari. Di tengah pertumbuhan ekonomi yang cepat, ia tetap mengandalkan tiga hal yang paling ia pahami: resep keluarga, pelayanan yang baik, dan kedekatan dengan pelanggan.
Pertumbuhan Pekerja Membuka Kebutuhan Harian
Kisah Ruslan mencerminkan peluang yang lahir seiring bertambahnya aktivitas industri di Bahodopi. Jumlah pekerja di Kawasan IMIP meningkat dari tahun ke tahun, sehingga kebutuhan untuk makanan, minuman, layanan harian, serta usaha pendukung lain ikut membesar.
Catatan HR Department PT IMIP menunjukkan jumlah tenaga kerja di kawasan itu mencapai 35.592 orang pada 2020. Angka tersebut menjadi 51.542 orang pada 2021, lalu meningkat menjadi 68.466 orang pada 2022. Pada 2023 jumlahnya tercatat 74.350 pekerja, kemudian sekitar 83.000 orang pada 2024.
Pada 2025, jumlah karyawan kembali naik menjadi 86.804 orang. Hingga September 2026, populasi pekerja di Kawasan IMIP telah mencapai 100.310 orang. Dari angka itu, 91.904 merupakan pekerja laki-laki dan 8.406 lainnya pekerja perempuan.
Besarnya jumlah pekerja turut menciptakan perputaran ekonomi yang luas di wilayah sekitar. Saat jumlah pekerja mencapai 86.804 orang pada 2025, perputaran uang di Bahodopi diperkirakan berada pada kisaran Rp499,1 miliar setiap bulan, atau setara Rp5,9 triliun dalam setahun. Nilai tersebut tidak hanya terlihat dalam angka, tetapi juga dalam kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi di luar kawasan industri.
“Pertumbuhan kawasan yang begitu masif, turut mendorong sektor usaha di Bahodopi ikut berkembang. Riset mencatat lima jenis UMKM terbanyak di Bahodopi, antara lain Kios Pertamini (981 unit), Stan Minuman (735), Stan Makanan non-bangunan (670), Kios Umum (648), dan Warung Makan (591),” ucap Head of Media Department PT IMIP Dedy Kurniawan.
“Sebagian besar UMKM berada pada kategori usaha mikro dengan omzet hingga Rp 300 juta per tahun, namun tren pertumbuhannya menunjukkan potensi naik kelas,” sambungnya.
Data itu memperlihatkan bahwa sektor pangan tetap menjadi salah satu penopang kegiatan ekonomi lokal. Pekerja dengan jadwal pagi, siang, maupun malam membutuhkan pilihan makanan yang praktis dan terjangkau. Kondisi tersebut memberi ruang bagi usaha rumahan dan pedagang kecil untuk membangun pelanggan tetap melalui rasa, harga, serta konsistensi layanan.
Nasi Kuning Mak Indah untuk Para “Helm Kuning”
Di jalur Trans Sulawesi menuju Desa Fatufia, aktivitas serupa berlangsung di warung nasi kuning milik Nursia Asis. Perempuan 45 tahun yang akrab dipanggil Mak Indah itu menyambut pembeli pada waktu-waktu ketika banyak pekerja bersiap berangkat atau baru menyelesaikan shift malam.
Aroma nasi kuning menjadi salah satu penanda pagi di kawasan tersebut. Menu racikan Mak Indah banyak diminati para “helm kuning”, sebutan yang lekat bagi pekerja IMIP karena sebagian besar memakai pelindung kepala berwarna kuning saat bekerja.
Usaha rumahan itu telah berjalan sejak Januari 2014. Pelanggan datang karena harga yang terjangkau, porsi yang dinilai besar, dan rasa lauk yang terus dijaga. Ketekunan tersebut membuat usaha Mak Indah dapat menghabiskan puluhan kilogram beras setiap hari, dengan omzet mencapai puluhan juta rupiah per bulan.
Jumlah warung makan di sekitar IMIP terus bertambah, termasuk tempat makan yang beroperasi selama 24 jam. Namun, Mak Indah tidak memandang pedagang lain sebagai ancaman. Ia meyakini bahwa rezeki setiap orang telah memiliki jalannya sendiri. Sikap itu juga terlihat ketika pedagang lain datang meminta resep atau meminta saran untuk berjualan.
Bagi pelanggannya, Mak Indah bukan sekadar penjual nasi kuning. Ia dikenal dekat dengan pembeli dan sering menyelipkan candaan ringan saat melayani pesanan. Hubungan sederhana seperti itu membuat rutinitas makan sebelum bekerja atau setelah pulang shift memiliki suasana yang lebih akrab.
Usaha Kecil sebagai Bekal Keluarga
Hasil berjualan nasi kuning menjadi tumpuan Mak Indah dalam menyiapkan masa depan tiga anaknya yang tinggal di Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Setiap hari memasak dan melayani pembeli menjadi bagian dari upayanya membiayai pendidikan serta perjalanan hidup anak-anaknya.
Anak perempuannya, Indah Mayangsari, berusia 23 tahun, telah menyelesaikan studi Teknologi Informasi di Universitas Nusa Nipa, Maumere, dengan IPK 3,65. Kini ia bekerja sebagai guru komputer dan mengelola tata usaha di Kota Kupang.
Sementara itu, Muhammad Wildan, 19 tahun, menuntaskan pendidikan arsitek di sekolah teknik menengah di Flores. Ia sedang menjalani pendidikan militer TNI AD di Bogor.
Dari semangkuk bubur hingga sebungkus nasi kuning, usaha makanan di Bahodopi memperlihatkan bagaimana pertumbuhan kawasan industri dapat membuka kesempatan ekonomi bagi warga. Bagi Ruslan dan Mak Indah, peluang itu dijalankan melalui kerja keras yang dimulai sejak pagi buta, dijaga melalui pelayanan, dan diarahkan untuk membangun masa depan keluarga.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Asa dari Semangkuk Bubur dan Nasi?Asa dari Semangkuk Bubur dan Nasi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Asa dari Semangkuk Bubur dan Nasi matter?Asa dari Semangkuk Bubur dan Nasi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.