Ada ‘Bola Raksasa’ di CFD HI, Warga Bisa Tulis Harapan Jelang 500 Tahun DKI
Lima Bola Raksasa Jadi Ruang Harapan Warga di CFD Bundaran HI
Wahanaberita.com – Suasana car free day di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Minggu (18/10/2026) mendapat tambahan warna melalui sebuah instalasi seni partisipatif. Di area sekitar Monumen Selamat Datang, lima bola berukuran besar dipajang agar warga dapat meninggalkan gambar, pesan, maupun harapan mereka untuk Jakarta menjelang peringatan 500 tahun kota ini.
Instalasi tersebut menjadi bagian dari happening art bertajuk Jakarta Kulminasi. Tidak hanya dipandang dari kejauhan, karya itu mengundang pengunjung CFD untuk terlibat langsung. Cat telah disiapkan, sementara permukaan bola yang berlapis koran berubah menjadi media ekspresi bersama bagi warga yang melintas di pusat kota.
Simbol perjalanan lima abad Jakarta
Lima bola besar itu ditempatkan mengitari Monumen Selamat Datang dan ditopang menggunakan bata. Jumlahnya bukan sekadar elemen visual. Setiap bola mewakili satu abad dalam perjalanan Jakarta, sehingga keseluruhannya melambangkan usia 500 tahun ibu kota.
Sebelum dibuka sebagai ruang interaksi bagi masyarakat, bola-bola tersebut digelindingkan mengelilingi area Bundaran HI pada sekitar pukul 06.00 WIB. Setelah itu, warga dipersilakan mendekat, menulis, melukis, serta menyampaikan pandangan mereka mengenai kehidupan di Jakarta melalui karya seni tersebut.
Perwakilan penyelenggara, Dipa Azuri, menyampaikan bahwa instalasi itu merupakan karya seniman Gogor Purwoko. Kegiatan tersebut dirancang sebagai perayaan kreatif menuju tonggak lima abad Jakarta, sekaligus membuka ruang percakapan publik di tengah aktivitas car free day.
“Kalau ini dari si senimannya langsung ya, dari Gogor Purwoko. Jadi, kita mau menyelenggarakan happening art, yaitu menuju 500 tahun Jakarta yang judulnya tuh ‘Jakarta Kulminasi’,” kata Dipa.
Ia menjelaskan, konsep lima bola dipakai untuk merepresentasikan lima periode seratus tahun. Pengunjung tidak dibatasi untuk sekadar melihat, melainkan diajak meninggalkan respons personal mengenai kota yang mereka tinggali, kunjungi, atau rasakan setiap hari.
“Ada 5 bola untuk setiap 100 tahun Jakarta. Jadi jam 6 tadi ini bola digelindingin dulu mengelilingi Jakarta, Bundaran HI. Lalu bola ini kita persilakan orang-orang untuk mampir, untuk berinteraksi langsung dengan bola-bola ini dengan menulis harapan mereka, menulis apa sih yang yang mereka rasakan hidup di Jakarta,” ujar Dipa.
Pesan lingkungan muncul di permukaan instalasi
Beragam coretan mulai memenuhi bola-bola raksasa itu. Sebagian warga menggambar bentuk sederhana seperti matahari, sementara yang lain menggunakan ruang tersebut untuk mengangkat perhatian terhadap isu lingkungan. Pesan tentang perlindungan hutan Indonesia dan kewaspadaan terhadap kabut asap terlihat di antara karya-karya yang dibuat pengunjung.
Kehadiran pesan lingkungan memperlihatkan bahwa ruang seni di tempat terbuka juga dapat menjadi wadah untuk menyuarakan keresahan sehari-hari. Di tengah keramaian CFD, warga bebas memilih cara menyampaikan gagasan, baik lewat tulisan singkat, gambar, maupun simbol yang mudah dikenali pengunjung lain.
Naufal, warga Jagakarsa, Jakarta Selatan, menjadi salah satu pengunjung yang ikut melukis pada instalasi karya Gogor Purwoko. Ia menuliskan pesan “save our forrest” sebagai ungkapan kepeduliannya terhadap situasi kebakaran hutan dan lahan serta dampak asap yang dibicarakan masyarakat.
“Iya ini saya nulis itu. Momennya lagi soal Karthutla, asapnya juga katanya udah sampai Jakarta. Semoga ini jadi bentuk suara kita sebagai kepedulian ya,” kata Naufal.
Partisipasi seperti yang dilakukan Naufal menjadikan karya tersebut terus berubah sepanjang kegiatan berlangsung. Bola-bola itu bukan hanya objek pameran dengan bentuk yang tetap, melainkan arsip visual sementara yang dibangun oleh banyak tangan dan berisi perhatian warga terhadap Jakarta maupun isu yang melampaui batas kota.
Akan ditampilkan di Taman Ismail Marzuki
Setelah kegiatan di Bundaran HI selesai, instalasi lima bola itu direncanakan dibawa ke Taman Ismail Marzuki. Penempatan di TIM akan memperpanjang perjalanan karya tersebut dari ruang jalanan menuju kawasan yang dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan seni dan kebudayaan di Jakarta.
Perpindahan itu memberi makna tambahan pada karya partisipatif ini. Pesan-pesan yang muncul saat CFD dapat dilihat kembali dalam konteks pameran, sekaligus memperlihatkan bagaimana warga memandang kota mereka ketika Jakarta memasuki fase menuju usia 500 tahun.
Bundaran HI sendiri menjadi lokasi yang relevan untuk kegiatan semacam ini karena pada akhir pekan kawasan tersebut dipenuhi pejalan kaki, pesepeda, keluarga, dan komunitas. Ketika kendaraan bermotor dibatasi selama car free day, ruang publik berubah menjadi tempat warga berolahraga, bertemu, hingga ikut serta dalam kegiatan kreatif seperti happening art.
Instalasi ini memperlihatkan bahwa peringatan perjalanan sebuah kota tidak harus berhenti pada seremoni formal. Melalui lima bola raksasa, masyarakat diberi kesempatan mengisi perayaan itu dengan suara mereka sendiri: harapan akan Jakarta, gambar sederhana, hingga ajakan untuk menjaga lingkungan. Setiap coretan menjadi bagian dari percakapan bersama tentang kota yang terus bergerak menuju lima abad sejarahnya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Ada Bola Raksasa di CFD HI Warga?Ada Bola Raksasa di CFD HI Warga is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Ada Bola Raksasa di CFD HI Warga matter?Ada Bola Raksasa di CFD HI Warga matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.