Wahanaberita
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

105 Siswa-8 Guru Keracunan MBG, Operasional SPPG di Rembang Disetop Sementara

Published September 27, 2026 · Updated September 27, 2026 · By Robert Brown - wahanaberita.com

Foto : Robert Brown - wahanaberita.com

Operasional SPPG Magersari 2 Dihentikan Usai Ratusan Warga Sekolah Alami Gangguan Pencernaan

Wahanaberita.com – Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara kegiatan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Magersari 2 di Rembang, Jawa Tengah, menyusul kasus gangguan kesehatan yang dialami 105 siswa dan delapan guru SMAN 1 Rembang setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG).

Selain penghentian operasional, kepala SPPG tersebut juga dicopot. Langkah ini ditempuh sambil proses pemeriksaan terhadap dapur, personel, serta pelaksanaan standar operasional terus berjalan. Penanganan diarahkan untuk memastikan keamanan penerima manfaat program menjadi prioritas utama.

Para siswa dan guru yang terdampak mengalami keluhan berupa diare serta mual. Keluhan itu muncul setelah mereka menyantap makanan MBG pada Kamis, 24 September 2026. Menu yang dibagikan saat itu terdiri atas nasi, bakwan jagung, dan pentol dengan bumbu Bali.

Suspensi selama 30 hari

Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, menyatakan penghentian ini diberlakukan dengan kategori sanksi berat untuk periode 30 hari. Masa tersebut akan digunakan untuk pemulihan dan pembenahan terhadap hal-hal yang ditemukan dalam evaluasi.

“Untuk sementara kita sudah berlakukan suspend berat selama 30 hari ke depan kalau recovery dan perbaikan tidak jalan maka tidak menutup kemungkinan kita lakukan penutupan permanen,” ujar Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana kepada detikcom, Minggu (26/9/2026).

Kemungkinan penutupan permanen tetap terbuka apabila perbaikan yang diwajibkan tidak dijalankan secara memadai. Keputusan lanjutan akan terkait dengan hasil pemulihan serta evaluasi atas kelayakan operasional penyedia makanan tersebut.

Kasus di Rembang menjadi pengingat bahwa penyediaan makanan untuk lingkungan sekolah membutuhkan pengawasan ketat pada setiap tahap. Proses pengolahan, kesiapan dapur, kondisi personel, hingga tata cara penyajian merupakan bagian yang harus dipenuhi agar makanan yang diterima siswa aman untuk dikonsumsi.

Investigasi dapur dan pemeriksaan laboratorium

BGN menyampaikan keprihatinan atas kejadian tersebut. Upaya pencegahan telah dilakukan, namun pemeriksaan awal menunjukkan masih ada prosedur operasional standar atau SOP yang perlu ditelusuri karena diduga tidak dijalankan sebagaimana mestinya.

Tim BGN melakukan penyelidikan menyeluruh sembari menunggu hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan. Pemeriksaan itu mencakup standar dapur, kelayakan sarana pengolahan, serta personel yang bekerja di lokasi.

“Sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinkes, tim kita juga melakukan investigasi secara menyeluruh baik standar dan kelayakan dapurnya termasuk personel yang ada di dapur,” jelas Ketut.

Hasil laboratorium penting untuk membantu memperjelas penyebab keluhan yang dialami para penerima makanan. Sementara itu, investigasi di lapangan dapat menilai apakah terdapat persoalan pada pelaksanaan prosedur keamanan pangan atau aspek kelayakan dapur yang memerlukan pembenahan.

Dalam layanan penyediaan makanan dalam jumlah besar, penghentian sementara dapat menjadi langkah perlindungan agar distribusi tidak kembali dilakukan sebelum evaluasi selesai dan kondisi operasional dinilai layak. Bagi sekolah dan keluarga siswa, kepastian mengenai tindak lanjut juga penting untuk menjaga rasa aman terhadap program makanan yang diterima peserta didik.

105 siswa dan delapan guru terdampak

Kepala SMAN 1 Rembang, Endang Sri Lestari, menyebut jumlah warga sekolah yang mengalami gejala mencapai 113 orang. Mereka terdiri dari 105 murid dan delapan guru. Tidak ada tenaga kependidikan yang tercatat terdampak dalam kejadian ini.

“Sebanyak 105 murid terdampak diare dan ada delapan guru. Untuk tendik tidak ada,” kata Kepala SMAN 1 Rembang Endang Sri Lestari saat dimintai konfirmasi pada Jumat malam, dilansir detikJateng, Sabtu (26/9/2026).

Penanganan kasus ini tidak berhenti pada pencopotan kepala SPPG dan suspensi kegiatan dapur. BGN juga menegaskan akan mengambil tindakan terhadap penyelenggara yang terbukti melanggar SOP. Sikap tegas tersebut berlaku baik untuk kegiatan operasional dapur maupun pihak pelaksana di lapangan.

“Demi keselamatan dan kesehatan penerima manfaat, kami tidak segan untuk mengambil tindakan tegas baik terhadap operasional dapurnya maupun pelaksana di lapangan,” jelas Ketut.

Program MBG ditujukan untuk memberikan makanan kepada penerima manfaat, sehingga keamanan makanan menjadi syarat mendasar yang tidak dapat dipisahkan dari tujuan program. Kejadian di SMAN 1 Rembang menempatkan pengawasan mutu, kebersihan, dan kepatuhan terhadap SOP sebagai perhatian utama dalam evaluasi SPPG Magersari 2.

Selama operasional masih dihentikan, fokus penanganan berada pada pemeriksaan laboratorium, investigasi kondisi dapur, evaluasi personel, dan pelaksanaan perbaikan. Setelah masa suspensi berjalan, hasil evaluasi tersebut akan menentukan apakah layanan dapat dipulihkan atau justru menghadapi penutupan permanen.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is 105 Siswa 8 Guru Keracunan MBG Operasional?

105 Siswa 8 Guru Keracunan MBG Operasional is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does 105 Siswa 8 Guru Keracunan MBG Operasional matter?

105 Siswa 8 Guru Keracunan MBG Operasional matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.