‘Batas Usia’ Menjadi Penghalang Masuk Kerja

Wahana Berita – Zico Abadi merasa sangat tidak beruntung dalam hidupnya. Meskipun teman-teman seumurannya sudah memulai karir, pada usia 26 tahun, Zico belum memulai sama sekali. Meskipun telah mengirim ratusan surat lamaran pekerjaan secara daring dan menghadiri berbagai wawancara, belum ada hasil yang memuaskan. Setiap hari, Zico merasa semakin frustrasi karena merasa tertinggal jauh dari teman-temannya yang seumuran.

Dia mengungkapkan bahwa mencari pekerjaan pada usia 26 tahun ternyata sangat sulit. Dia merasa lelah mencari pekerjaan, tetapi juga tidak ingin menganggur terus-menerus. Berbeda dengan teman-temannya seumurannya, Zico harus mengambil jalur yang berbeda dalam pendidikannya. Ketika gagal masuk universitas negeri melalui jalur SNMPTN, Zico terpaksa menunda studi selama setahun. Akhirnya, dia memutuskan untuk kuliah di perguruan tinggi swasta di Bandung.

Namun, perjalanan pendidikannya tidak berjalan mulus. Dia bahkan harus cuti kuliah selama setahun untuk merawat ayahnya yang sakit parah. Zico harus meminta perpanjangan masa belajar kepada rektor universitas. Akibatnya, dia baru lulus setelah hampir enam tahun kuliah. Saat ini, ketika rekan-rekannya sudah memiliki pekerjaan, Zico masih berjuang mencari pekerjaan. Di usia 26 tahun, Zico masih berupaya mencari pekerjaan pertamanya.

Zico juga menghadapi kendala lain selama proses mencari pekerjaan, seperti batasan usia. Kebanyakan lowongan pekerjaan menetapkan batas usia maksimal yang sangat muda. Ini membuat peluang bagi mereka yang berusia di atas rentang usia tersebut menjadi sangat terbatas di pasar kerja. Persyaratan pengalaman kerja juga menjadi kendala bagi Zico.

Leonardo Olefins Hamonangan, pemuda berusia 23 tahun asal Bekasi, juga merasa frustrasi dengan situasi ini. Dia bahkan mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi terkait pasal-pasal yang dianggapnya diskriminatif dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan. Leonardo menilai persyaratan usia dan pengalaman kerja di lowongan kerja menjadi penghalang bagi banyak pencari kerja, terutama bagi generasi muda.

Keluhan ini juga dirasakan oleh Ririn Kuntarini, seorang perempuan berusia 30 tahun yang saat ini mencari pekerjaan. Sebelumnya, Ririn sempat absen dari dunia kerja selama dua tahun karena hamil dan merawat anaknya. Namun, ketika ingin kembali bekerja, dia merasa sulit mendapatkan pekerjaan karena batasan usia yang diberlakukan oleh banyak perusahaan.

Batasan usia ini memiliki dampak yang lebih buruk bagi tenaga kerja perempuan, seperti yang dialami oleh Ririn. Banyak perempuan di Indonesia harus berhenti bekerja ketika hamil, melahirkan, dan merawat anak-anaknya. Ketika ingin kembali bekerja, mereka seringkali terhambat oleh batasan usia dalam lowongan pekerjaan. Menurut laporan Badan Pusat Statistik, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia masih jauh lebih rendah daripada laki-laki.

Jika mereka tidak dapat bekerja di sektor formal, mereka sering kali terpaksa bekerja di sektor informal yang tidak memiliki batasan usia. Ririn berharap bahwa aturan tentang batasan usia dalam lowongan pekerjaan dapat dipertimbangkan ulang, sehingga mereka yang berusia di atas 30 tahun juga memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan.

Sumber : news.detik.com