Dw

AS Klaim Kuasai Hormuz, Iran Tetap Tutup Jalur Minyak Dunia

Iran menegaskan akan terus menutup Selat Hormuz hingga Washington memenuhi seluruh tuntutan Teheran. Langkah ini diambil meskipun Presiden Amerika Serikat

Desk Dw
Published Agustus 13, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments
Foto : Jennifer Jackson - wahanaberita.com
Table of Contents
  1. Iran Pertahankan Penutupan Selat Hormuz Meski AS Klaim Menguasai
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Iran Pertahankan Penutupan Selat Hormuz Meski AS Klaim Menguasai

Wahanaberita.com – Iran menegaskan akan terus menutup Selat Hormuz hingga Washington memenuhi seluruh tuntutan Teheran. Langkah ini diambil meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa AS kini memiliki “kendali penuh” atas jalur pelayaran strategis tersebut. Serangan terhadap kapal-kapal di kawasan selat dan sekitarnya masih terus berlangsung.

Pernyataan Trump dan Sikap Iran

Trump menyampaikan klaimnya kepada wartawan pada hari Selasa (11/8). Ia menekankan bahwa tidak ada pihak lain yang memiliki pengaruh di wilayah tersebut.

“Kami sepenuhnya mengendalikan Selat Hormuz. Kami menguasainya; tidak ada pihak lain, hanya kami,” kata Trump.

Presiden AS tersebut juga mengungkapkan ketidakpercayaannya terhadap Iran. Menurutnya, Teheran sering kali memberikan pernyataan yang tidak sesuai kenyataan. Trump menegaskan bahwa Iran sebenarnya tidak memiliki otoritas penuh atas selat tersebut.

Sementara itu, menurut laporan Reuters, Iran bersikeras bahwa pembukaan kembali jalur pelayaran bergantung pada penerimaan Washington terhadap beberapa persyaratan. Teheran meminta AS menghentikan blokade terhadap pelabuhannya serta mencabut sanksi yang berlaku.

Eskalasi di Jalur Pelayaran Lain

Ketegangan tidak hanya terjadi di Selat Hormuz. Otoritas Yaman melaporkan enam korban jiwa pada hari Selasa akibat serangan kelompok Houthi yang didukung Iran di Selat Bab el-Mandeb.

Penjaga pantai Yaman menjelaskan bahwa korban terdiri dari empat awak kapal dan dua anggota pasukan National Resistance Forces yang bersekutu dengan pemerintah. Kementerian Transportasi Yaman menambahkan bahwa Houthi menembakkan tiga rudal balistik ke kapal komersial tersebut.

Empat awak kapal tewas dalam insiden ini. Reuters menyebut ini sebagai kematian pertama yang diketahui akibat serangan Houthi terhadap pelayaran sejak perang dimulai pada 28 Februari.

Mohammed Abdul-Salam, juru bicara sekaligus kepala perunding Houthi, menuduh Arab Saudi memanfaatkan gencatan senjata untuk memperketat blokade udara dan laut yang telah berlangsung sejak 2015. Ia menyatakan bahwa kelompoknya terbuka untuk negosiasi, namun setiap penyelesaian harus mencakup pencabutan blokade.

Insiden di Teluk Oman

Di Teluk Oman, militer AS melaporkan bahwa pasukannya menembaki kapal berbendera Panama yang mencoba menerobos blokade pelabuhan Iran. Komando Pusat AS menjelaskan bahwa kapal M/V Vela Nova telah mengabaikan peringatan untuk berhenti. Akibatnya, sebuah helikopter AS menembakkan rudal ke ruang mesin kapal dan melumpuhkannya.

Komando Pusat AS juga menyatakan bahwa mereka telah mengalihkan 55 kapal komersial yang berupaya menerobos blokade. Selain itu, tiga kapal yang tidak mematuhi perintah dilumpuhkan dan dua kapal lainnya dinaiki.

Dampak Terhadap Pasar Energi

Pernyataan Trump mengenai kendali AS atas Selat Hormuz muncul ketika lalu lintas komersial di kawasan tersebut masih berada pada tingkat rendah. UK Maritime Trade Operations (UKMTO) mencatat bahwa aktivitas pelayaran komersial tetap berkurang. Serangan, upaya serangan, serta aktivitas “gangguan” oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran terus berlangsung.

“Aksi-aksi ini terus menunjukkan niat Iran untuk mempertahankan kehadiran di sepanjang jalur transit utama serta mempertahankan tekanan terhadap kapal-kapal yang melintas,” kata UKMTO.

Menurut dpa, sekitar seperlima permintaan minyak dunia sebelumnya diangkut melalui Selat Hormuz. Jalur tersebut juga penting untuk pengiriman gas alam cair dan pupuk. Setelah perang dimulai, serangan dan ancaman terhadap kapal menyebabkan lalu lintas melalui selat hampir terhenti dan mendorong kenaikan harga minyak dan gas.

Pasar kembali merespons perkembangan tersebut pada Rabu (12/8). Harga minyak mentah AS naik 0,61 persen menjadi 83,71 dolar AS per barel, sementara Brent naik 0,62 persen menjadi 89,46 dolar AS per barel. Brent berada di jalur untuk mencatat kenaikan harian keenam berturut-turut.

“Kurangnya berita atau kemajuan substansial dalam pembicaraan, dengan Iran mempertegas komitmennya untuk mengendalikan Selat Hormuz, membuat risiko harga minyak tetap condong ke atas,” kata Kyle Rodda, analis pasar keuangan senior di Capital.com.

Upaya Mediasi Pakistan

Di tengah kebuntuan pembicaraan, Pakistan kembali berupaya mendorong negosiasi. Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi melakukan perjalanan ke Teheran pada hari Selasa untuk bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan pejabat lain. Kunjungan itu bertujuan mendorong Iran kembali berunding dengan AS berdasarkan kesepakatan damai sementara yang dimediasi Pakistan pada Juni, menurut dua pejabat yang dikutip oleh Reuters.

Ketegangan di Hormuz juga terus menjadi perhatian pasar menjelang data inflasi AS.

Frequently Asked Questions

What is AS Klaim Kuasai Hormuz Iran Tetap?

AS Klaim Kuasai Hormuz Iran Tetap is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does AS Klaim Kuasai Hormuz Iran Tetap matter?

AS Klaim Kuasai Hormuz Iran Tetap matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment