Kolom

Sepatu Karet dan Cara Kita Menilai Riset

Beberapa hari setelah pameran di Istana Merdeka, Jakarta, sorotan publik beralih dari alat canggih ke barang yang tampak biasa saja. Media sosial ramai

Desk Kolom
Published Agustus 11, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments
ilustrasi-riset-freepik-free_169
Foto : Robert Brown - wahanaberita.com
Table of Contents
  1. Sepatu Karet dan Cara Kita Menilai Riset
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Sepatu Karet dan Cara Kita Menilai Riset

Wahanaberita.com – Beberapa hari setelah pameran di Istana Merdeka, Jakarta, sorotan publik beralih dari alat canggih ke barang yang tampak biasa saja. Media sosial ramai membahas sepatu karet, genteng komposit, dan keripik ubi. Padahal, pada Kamis, 6 Agustus 2026, perangkat yang saya kembangkan turut dipajang bersama lebih dari dua ratus inovasi dan hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kira-kira seratus lima puluh peneliti serta perekayasa hadir membawa karya mereka. Cakupan penelitian sangat luas, mencakup energi, mineral, kesehatan, pangan, kedirgantaraan, hingga teknologi nuklir. Namun, yang menjadi pusat perhatian justru produk-produk yang secara visual terlihat sederhana.

Perangkat Deteksi Tanah Berbasis Inframerah

Alat yang saya kembangkan berfungsi sebagai detektor cepat unsur hara tanah menggunakan teknologi inframerah dekat. Dalam waktu kurang dari lima menit, alat ini mampu memperkirakan kadar nitrogen, fosfor, kalium, bahan organik, serta tingkat keasaman tanah. Tujuan utamanya jelas: memberikan informasi kondisi tanah secara lebih cepat agar petani memiliki dasar yang lebih baik dalam mengelola lahannya.

Fenomena publik yang lebih tertarik pada sepatu karet daripada alat canggih ini sebenarnya menarik untuk direnungkan. Bukan berarti masyarakat tidak boleh mempertanyakan hasil riset. Justru sebaliknya, lembaga penelitian yang memanfaatkan sumber daya publik memang harus terbuka terhadap kritik. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana sebuah hasil riset seharusnya dinilai.

Apakah cukup hanya dengan melihat bentuk produk akhirnya?

Teknologi di Balik Sepatu Karet

Jika pertanyaan yang muncul hanyalah mengapa lembaga riset membuat sepatu, kritik tersebut terdengar masuk akal. Industri sepatu memang sudah ada sejak lama. Namun, nilai sebuah penelitian tidak selalu terletak pada benda yang terlihat di meja pameran.

Sepatu tersebut dibuat menggunakan teknologi one-piece injection molding. Proses pencetakan ini memungkinkan bagian atas dan sol terbentuk secara menyatu tanpa memerlukan perekat konvensional. Lebih penting lagi, penelitian di balik produk ini berkaitan dengan pengembangan material berbasis sumber daya dalam negeri, termasuk karet alam serta pemanfaatan limbah industri kelapa sawit.

Abu boiler sawit, misalnya, dapat diolah menjadi material berbasis silika yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Serat sawit yang sebelumnya dipandang sebagai limbah juga dapat dikembangkan menjadi bagian dari material komposit.

Dengan demikian, pertanyaan yang lebih relevan bukanlah apakah BRIN mampu membuat sepatu, melainkan: teknologi apa yang berhasil dikuasai, bahan baku apa yang dapat diproduksi di dalam negeri, ketergantungan apa yang dapat dikurangi, dan industri apa yang berpotensi tumbuh dari penguasaan teknologi tersebut?

Dari Laboratorium ke Dampak Nyata

Tujuan akhir riset seharusnya memang bukan sekadar menghasilkan benda pameran. Lebih jauh lagi, riset perlu menjawab persoalan nyata: meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya, memperbaiki kualitas produk, menyelesaikan persoalan lingkungan, memperkuat industri, hingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam konteks inilah hilirisasi menjadi krusial. Suatu teknologi dapat dikatakan berdampak ketika hasil penelitian tidak berhenti sebagai laporan atau artikel ilmiah, melainkan mulai digunakan oleh masyarakat, pemerintah, maupun industri. Sebagian teknologi BRIN saat ini telah dilisensikan dan diproduksi oleh industri dalam negeri.

Ketika proses itu terjadi, penelitian mulai berhubungan langsung dengan investasi, lapangan kerja, rantai pasok, dan aktivitas ekonomi. Jurnal ilmiah tentu tetap penting. Publikasi merupakan bagian dari proses validasi pengetahuan dan menjadi fondasi perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, untuk penelitian terapan, publikasi bukan satu-satunya titik akhir. Pengetahuan perlu diterjemahkan menjadi teknologi yang dapat digunakan.

Investasi Riset Indonesia

Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam hal ini. Data World Bank yang bersumber dari UNESCO menunjukkan pengeluaran penelitian dan pengembangan Indonesia tercatat sekitar 0,28 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2020. Sebagai perbandingan, Vietnam telah mencapai sekitar 0,41 persen pada 2023.

Dengan investasi riset yang masih relatif terbatas, tuntutan agar penelitian menghasilkan manfaat nyata tentu semakin relevan. Namun, tuntutan tersebut juga perlu dibarengi dengan investasi yang memadai serta ekosistem yang memungkinkan teknologi berkembang dari laboratorium hingga industri.

BRIN dan peneliti juga perlu bercermin. Publikasi ilmiah bukan akhir dari perjalanan penelitian. Yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterapkan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat Indonesia.

Frequently Asked Questions

What is Sepatu Karet dan Cara Kita Menilai?

Sepatu Karet dan Cara Kita Menilai is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Sepatu Karet dan Cara Kita Menilai matter?

Sepatu Karet dan Cara Kita Menilai matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment