Hari Anak Nasional, Komnas Anak Soroti Fenomena Bullying Sejak Kelas 1 SD
Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional tahun 2026, Komnas Anak DKI Jakarta menggelar diskusi yang menyoroti fenomena perundungan atau bullying yang
Table of Contents
Hari Anak Nasional Komnas Anak: Bullying Mulai Terjadi Sejak Kelas 1 SD
Wahanaberita.com – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional tahun 2026, Komnas Anak DKI Jakarta menggelar diskusi yang menyoroti fenomena perundungan atau bullying yang semakin marak di kalangan anak-anak. Berdasarkan data yang dihimpun, tren kasus bullying terus mengalami peningkatan setiap harinya. Yang menjadi perhatian serius adalah fenomena tersebut sudah mulai terlihat pada siswa kelas satu sekolah dasar. Melalui acara ini, Hari Anak Nasional Komnas Anak berharap dapat memberikan pemahaman yang lebih baik kepada masyarakat tentang pentingnya mencegah perundungan sejak dini.
Penobatan Duta Anak Anti-bullying
Dalam rangkaian acara yang bertema “Berteman Aman Tanpa Bullying”, sebanyak lima anak berhasil ditunjuk sebagai Duta Anak Anti-bullying. Ketua Komnas Anak DKI Jakarta, Cornelia Agatha, menyampaikan harapannya agar para duta ini mampu menyebarkan pesan tentang bahaya perundungan ke masyarakat yang lebih luas. Kelima anak yang mendapat kehormatan tersebut antara lain penyanyi cilik Farel Prayoga dan Annisa Dalimunthe, influencer cilik Malik Arrazy serta Charissa Putri Candrakirana yang dikenal dengan nama Chachahits, dan influencer disabilitas cilik Faisal Hamudi.
“Diharapkan anak-anak yang berprestasi di bidangnya masing-masing ini bisa menjadi inspirasi buat anak-anak lain, menebar kebaikan, serta membantu menyuarakan tentang bahaya bullying supaya bisa membangun kesadaran,” kata Cornelia.
Cornelia menambahkan bahwa karakter positif yang dimiliki para duta ini diharapkan dapat menjadi teladan bagi anak-anak lainnya. Mereka telah dikenal cukup lama oleh komisi karena memiliki karakter yang mampu menginspirasi. Para duta ini terus menunjukkan prestasi hingga saat ini, sehingga menjadi modal kuat untuk menjadi role model bagi anak-anak lainnya sebagai Duta Anak Anti-bullying.
Gaming sebagai Pemicu Meningkatnya Bullying
Wakil Ketua Umum Komnas Anak, Lia Latifah, menjelaskan bahwa salah satu penyebab naiknya tren bullying adalah kebiasaan anak-anak bermain gim. Menurutnya, aktivitas bermain gim sering kali memaparkan anak-anak pada kata-kata kasar dan adegan perkelahian yang kemudian memengaruhi perilaku mereka sehari-hari. Pernyataan ini disampaikan di kantor Komnas Anak Jakarta Timur pada hari Minggu, tanggal 9 Agustus 2026.
“Ya, gim yang tidak pernah bisa dihentikan. Sebetulnya gim itu yang membuat anak-anak akhirnya mempunyai perilaku, yang mempengaruhi perilaku anak-anak hari ini. Makanya kita susah sekali untuk menghentikan gim, baik di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan. Karena tanpa sadar, lewat gim yang mereka mainkan, ada kata-kata kasar, makian, perkelahian, bahkan di sana juga anak-anak diajarkan pembunuhan,” ungkapnya.
Lia Latifah menekankan bahwa meskipun sulit untuk menghentikan anak-anak dari bermain gim, orang tua dan guru memiliki peran penting dalam memperkuat mental mereka. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa anak-anak yang baru masuk kelas satu SD pun sudah mulai melakukan perundungan terhadap teman sebaya mereka.
Bullying Mulai Terjadi di Kelas 1 SD
Menurut Lia, anak-anak yang baru masuk kelas satu SD pun sudah mulai melakukan perundungan terhadap teman sebaya mereka. Yang menjadi perhatian adalah mereka belum sepenuhnya memahami dampak dari tindakan bullying terhadap korban. Oleh karena itu, penguatan mental anak-anak menjadi hal yang sangat mendesak. Lia menjelaskan bahwa anak-anak kelas satu SD sudah tahu bagaimana caranya mem-bully, namun mereka tidak tahu dampaknya ketika ada anak yang menjadi korban.
“Bahkan anak kelas 1 SD sudah tahu bagaimana caranya mem- bully. Nah, mereka tidak tahu dampaknya ketika ada anak yang menjadi korban, itu luar biasa. Makanya tadi saya sampaikan, mental anak-anak hari ini harus diperkuat. Siapa tugasnya memperkuat? Orang tua dan guru harus menguatkan mental anak-anak,” katanya.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Bullying di Anak-anak
Apa yang dimaksud dengan bullying? Bullying atau perundungan adalah tindakan agresif yang dilakukan secara berulang oleh seseorang atau kelompok terhadap orang lain dengan tujuan menyakiti, baik secara fisik maupun psikologis.
Bagaimana cara orang tua mencegah bullying pada anak? Orang tua dapat mencegah bullying dengan memperkuat mental anak, mengajarkan empati, serta memantau aktivitas anak termasuk bermain gim dan interaksi sosial mereka.
Apakah bullying hanya terjadi di sekolah? Tidak. Bullying dapat terjadi di berbagai lingkungan termasuk rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Bahkan, anak-anak sudah mulai mengalami bullying sejak kelas 1 SD.
Siapa saja yang berperan dalam mencegah bullying? Selain orang tua dan guru, masyarakat luas, termasuk influencer dan tokoh publik, juga memiliki peran penting dalam menyebarkan pesan anti-bullying kepada anak-anak.
